Friday, January 12, 2007

PROBLEM BAHASA LIDAH 2

UNGKAPAN EKSTATIK?



Posisi yang umum dipegang di kalangan pakar biblika mengenai problem bahasa lidah adalah “ungkapan-ungkapan ekstatik.” William Barclay contohnya, “Apa yang terjadi adalah ini—dalam suatu ibadah gereja seorang berada dalam suatu ekstase dan meluap bunyi-bunyian tak dapat dimengerti dalam bahasa yang tidak dapat dipahami.” Anthony Thiselton juga berkata hal yang sama, “Speaking in tongues denote a kind of non-conceptual, prerational outlet for a powerful welling up of emotions and experiences.”

Hanya saja, istilah “ungkapan ekstatik” pun nampaknya tidak tepat untuk menggambarkan bunyi-bunyian seperti itu. Vern Poythress mengamati, bahwa ungkapan ekstatik menyatakan keadaan psikologis yang mengucapkan, sementara bila bahasa lidah dipahami sebagai bahasa yang tidak pernah dipelajari tiba-tiba dapat dikuasai, maka ini berarti pengklasifikasian ilmiah dari suatu ungkapan (yang menghasilkan kata-kata bermakna). Mencampuradukkan keduanya sama saja membuat kacau antara jeruk dari apel.

Tetapi karena Paulus jelas-jelas tidak berkata apa-apa mengenai keadaan emosi dan mental orang yang mengucapkan bahasa lidah, maka kita harus membatasi penyelidikan pada uraian kedua, bahasa lidah itu menghasilkan kata-kata bermakna.

Mengapa tidak memahami bahasa lidah sebagai “ungkapan ekstatik,” yang sekarang kita akan sebut sebagai “ricauan non-kognitif-non-bahasa” (RNKNB)?

Pertama, tidak ada rujukan dalam 1 Korintus 14 mengenai keadaan mental dan emosi si pembicara bahasa itu. Nampaknya penekanan rasul Paulus di seluruh pasal itu adalah apakah bahasa itu ditafsirkan atau tidak. Gordon Fee pun menyadari hal ini, ketika ia menulis, “The problem is not speaking in tongues per se but speaking in tongues without interpretation—which from the context seems very likely that the Corinthians were doing.”

Kedua, kata Yunani ekstatikos tidak muncul di mana pun dalam 1 Korintus 14. Peraturan yang Paulus tetapkan bagi gereja menunjukkan adanya prasuposisi bahwa si pengucap dapat mengendalikan dirinya sendiri dan ucapan-ucapannya.

Ketiga, dalam 1 Korintus 12.10, Paulus berkata bahwa beberapa orang memiliki kemampuan dalam “ragam [gene] bahasa-bahasa lidah.” Jika benar bahasa itu adalah RNKNB, dan bukan bahasa manusia yang memiliki struktur jelas, maka bagaimana bahasa-bahasa itu dapat dibedakan ke dalam “jenis” atau “kelas-kelas”? Kemudian, pembedaan ke dalam bahasa-bahasa yang lebih khusus mengimplikasinya bahwa ini tentu merupakan bahasa-bahasa (!) tertentu.

Keempat, ketika Paulus berkata, “bahasa-bahasa manusia bahkan bahasa malaikat” (1Kor. 13.1), ia pasti tidak sedang mengacu kepada “RNKNB manusia bahkan RNKNB malaikat.” Perhatikan kutipan PL yang Paulus pakai di 1Kor. 14.21-22, ia mengacu kepada pengalaman di masa lampau bangsa yang berbahasa asing menaklukkan Israel, dan mereka berkata-kata kepada Israel. Sementara itu, bernubuat dilakukan dalam bahasa yang dapat dimengerti (yaitu Ibrani), dan ditujukan kepada orang percaya (bdk. 1Kor. 14.26). Tatkala Israel menolak hal ini oleh kekerasan hati mereka, maka mereka menerima bahasa-bahasa asing (1Kor. 14.22a), sebagai tanda penghukuman Allah. Di sepanjang pasal 14 ini, Paulus berargumen bahwa bernubuat lebih utama daripada bahasa yang tidak ditafsirkan. Maka, sah baginya untuk mengutip preseden di PL untuk mendukung argumennya. Harus disadari bahwa baik acuan PL maupun pilihan kata Paulus (“bahasa lain”) mengacu keapda bahasa manusia, bukan RNKNB!

Kelima, meskipun beberapa ahli (khususnya Johannes Behm) berusaha membuktikan adanya paralel Helenistik mengenai RNKNB, tetap saja timbul masalah yang pelik! D. A. Carson menentang argumen Behm:

More careful word studies have shown that in none of the texts adduced by Behm or the standard lexica does glossa ever denote non-cognitive utterance. The utterance may be enigmatic and incomprehensible, but not non-cognitive. The ecstatic utterance of the pagan religions prove less suitable a set of parallels than was once thought.

Keenam, kadang-kadang lidah muncul dalam bentuk tunggal, di kali lain jamak. Dapatkah dibedakan RNKNB yang tunggal dan jamak? Apakah Paulus berpikir tentang RNKNB yang banyak jumlahnya dalam 1Kor. 14.18? Rujukan adanya lidah yang tunggal atau jamak itu makin meneguhkan hipotesis bahwa ini adalah bahasa yang bisa tunggal atau bahasa-bahasa (jamak).

Ketujuh, RNKNB berisikan bunyi-bunyi serta suku-suku kata yang acak dan tidak beraturan, yang tidak berisikan kognitif. Teks dalam 1 Korintus 14 justru membuktikan kebalikannya. Bahasa (-bahasa) yang menjadi masalah di 1 Korintus 14 berisi lirik lagu (1Kor. 14.15) dan ungkapan-ungkapan doa, pujian juga ucapan syukur. Masalah lidah ini mengandung kata-kata. Dalam 1 Korintus 14.19, Paulus berkata bahwa ia lebih suka “lima kata yang dapat dimengerti” ketimbang “beribu-ribu kata dalam bahasa (tunggal/glossa). Jelas ini menunjukkan satu jenis bahasa tertentu. Kata-kata mengandung unsur kognitif dan merupakan pembangun bahasa lisan.

Kedelapan, RNKNB tidak dapat diterjemahkan atau ditafsirkan. Sebuah ungkapan bukan kognitif (tidak mengandung kata-kata atau struktur konvensional apa pun) tidak dapat ditafsirkan. Ahli PB Ernest Best mengutip contoh yang terkenal dari kisah fiktif anak-anak Alice di negeri antah-berantah, Through the Looking Glass, “Twas brillig, and the slitby toves did gyre and gimbe in the wabe: All mimsy were borogroves, and the mome raths otitgrabe.” Tidak mungkin seorang pun dapat menerjemahkan kalimat yang tidak mengandung informasi atau makna kognitif dan bukan bahasa. Tidak mungkin hal itu diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun (termasuk Yunani).

No comments:

The fruit of silence is prayer,
The fruit of prayer is faith,
The fruit of faith is love,
The fruit of love is service,
The fruit of service is peace.

—Mother Teresa of Calcutta