Friday, January 26, 2007

PROBLEM BAHASA LIDAH 5

BAHASA YANG DIPAHAMI OLEH SI PEMBICARA?


Dari analisis sejauh ini, kita dapat mengambil beberapa simpulan, bahwa bahasa lidah yang menjadi problem di komunitas Kristen di Korintus adalah: (1) bahasa-bahasa non-Yunani; (2) bahasa-bahasa yang, bila diterjemahkan ke bahasa Yunani, akan berhenti sebagai sebuah problem; (3) bahasa-bahasa non-Yunani yang dipakai untuk tujuan beribadah oleh pembicara bahasa itu: doa (14.14), menyanyi (14.15), mengucap syukur (14.16-17), dan memuji/meninggikan Allah (14.16).

Beberapa ahli mempercayai bahwa suatu mukjizat bahasa terjadi di mana si pembiara tiba-tiba mampu berbicara dalam bahasa yang ia tak pernah pelajari sebelumnya. Acuannya adalah Kisah Para Rasul 2. Namun harus diingat baik-baik, dalam konteks orang-orang Yudea abad I dan diglossia Yudea yang berkaitan dengan liturgi Bait Allah di Yerusalem, maka paham mukjizat bahasa tidak mendapat dukungan yang cukup dari segi histori maupun linguistik. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi di Yerusalem (dan Wilayah Timur) berbicara dalam bahasa Aramaik, sedangkan orang-orang Yahudi diaspora (Barat) berbahasa Yunani. Ketika mereka sedang beribadah di Yerusalem, mereka harus memakai bahasa Ibrani, sebagai bahasa suci atau bahasa surgawi. Namun betapa mereka terheran-heran ketika di peristiwa Pentakosta itu, mereka mendengar khotbah dalam bahasa yang mereka mengerti, yaitu bahasa yang dipakai di wilayah mereka masing-masing—tak lain yaitu bahasa Yunani dan Aramaik.

Bagian yang merupakan mukjizat adalah keberanian para pengikut Yesus untuk bernubuat, bukan menggunakan bahasa yang dikenal oleh para pendengarnya selain pula oleh para pembicaranya.

Maka, bila acuan Kisah 2 gagal, para penganjur mukjizat bahasa biasanya menghindar dengan mencoba untuk mengemukakan bukti bahwa bahasa di 1 Korintus 14 tidak dipahami oleh para pembicaranya, sedangkan di Kisah 2 para pembicaranya tidak mengenal bahasa yang mereka pakai sebelumnya.

Yang jelas, kesimpulan di atas telah melompati dari kaidah penafsiran kepada psikologi pembicara. Paulus tak pernah secara eksplisit mengemukakan apakah si pembicara tahu atau tidak bahasa yang ia pakai. Yang Paulus pentingkan adalah pendengarnya, bukan pembicaranya.

Tetapi bagaimana dengan 1 Korintus 14.2, 13, 14, 15-16, 28?

Beberapa orang akan mengklaim bahwa ketika Paulus berkata, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia,” ia sedang mengemukakan bahwa si pembicara tidak mengerti bahasa tersebut. Tetapi kiranya harus kita ingat bahwa konteks yang menyebabkan problem di Korintus adalah penyembahan kepada Allah—bahwa ibadah bukan saja bersifat pribadi atau privat tetapi juga korporat atau komunal.

Benny C. Aker berkata,

One really does not speak, then, unless it is understood by others, which is the social dynamic in a Mediterranean society. Something has to be said about the sociological significance of tongues and the lack of understanding that results when tongue speaking is not interpreted. For one person to do something which relates only to an individual such as being personally edified and not being concerned about interpreting the tongues and thus edifying the group—is quite shameful in a kinship oriented society.

No comments:

The fruit of silence is prayer,
The fruit of prayer is faith,
The fruit of faith is love,
The fruit of love is service,
The fruit of service is peace.

—Mother Teresa of Calcutta