Sunday, February 25, 2007

Demi Menggenapkan Seluruh Kehendak Allah


DEMI MENGGENAPKAN SELURUH KEHENDAK ALLAH
MATIUS 3.13-17

3:13 Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.
3:14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"
3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya.
3:16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
3:17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."


Apakah kehendak Allah bagi diriku? Inilah pertanyaan yang terus muncul. Kalau Anda bertanya kepada saya—sebagaimana para remaja yang selama ini saya layani juga sering menanyakan hal yang sama, khususnya berkenaan dengan pasangan hidup—jawaban saya adalah, “Tidak tahu.”

Agama-agama di dunia, termasuk juga kekristenan, akhir-akhir ini mengalami dekadensi dalam masalah ketahanan untuk tetap bertekun dalam menjalani liku-liku perjalanan hidup yang berat, diganti dengan kerohanian instan. Ironis! Sementara di satu sisi spiritualitas agama-agama berkembang begitu luar biasa, lagi-lagi juga dalam kekristenan tertentu, namun bila kita perhatikan, spiritualitas yang marketable adalah bentuk yang cepat memberikan jawab atas pergumulan saat ini! Jawaban Allah yang cepat atas usaha dan pekerjaan. Permohonan supaya Allah menyembuhkan penyakit. Pengajaran digantikan dengan genjotan psikologi behavioristik Freudian, yang ditandai dengan ogahnya orang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran ganti dengan character building yang pada galibnya adalah “agama” psikologi in disguise!

Sebagai pelayan-pelayan di gereja, memang kita menghadapi problem jemaat yang real. Namun, begitu cepat pula kita menganggap bahwa problem jemaat yang real hanya akan in touch dengan psikologi pendampingan pastoral, dan hal ini tidak ada kait-mengaitnya dengan ajaran. Kalaupun ada, teologi akan “dipaksa” untuk masuk dalam psikologi. Satu contoh, jemaat yang datang dengan problema yang dicurahkan kepada gembala jemaat, tak sedikit gembala yang kemudian berkata, “Allah turut berduka cita dengan Saudara.” Bila ada dosa kedapatan di dalam jemaat: “Allah menangis sekali lagi!”

Apa benar demikian? Kesaksian firman Tuhan memang menyatakan bahwa Yesus menangis. Tetapi Ia tidak selalu menangis! Melihat dosa, Yesus tidak selalu menitikkan air mata. Melihat orang yang menderita, Yesus berbelas kasihan—Ia berbela rasa—tetapi bukan berarti Ia menjadi lembek dan cengeng.

Dalam hemat saya, makin benar kenyataan yang ada di lapangan dengan pemikiran Ludwig Feuerbach, tiga ratus tahun yang lalu, bahwa Allah itu tak lain adalah “proyeksi ultimat dari manusia.” Diteruskan oleh Freud, Allah bukan sesuatu yang memang berada sebagai yang independen, dan berdaulat dari manusia, tetapi lagi-lagi merupakan cerminan dari kebutuhan manusia. Singkatnya, Anda sedang berduka cita, Anda akan melemparkan perasaan itu kepada Allah dan Anda akan melihat Allan sebagai yang berduka cita. Anda sedang menangis, Anda bagaikan sedang menaruh cermin, dan Anda melihat sosok yang muncul di dalam cermin itu adalah Anda sendiri. Kalau demikian, teologi tak lebih dari antropologi. Agama tak lebih dari rekaan manusia yang sedang mencari-cari kedamaian untuk hidupnya pribadi. Berbicara mengenai kehendak Allah, dengan demikian, tak lebih merupakan kehendak manusia yang ditembakkan kepada suatu bentuk ciptaan imajinatif yang kita namai sebagai “Tuhan” atau “Allah.” Dengan memiliki Allah yang demikian, kita menjadi aman, kita menjadi tenang, damai sejahtera “walau di tengah badai.”

Apakah kehendak Allah? Kesaksian firman Tuhan tidak terlalu berminat untuk menjabarkan ditil-ditil kehendak Allah untuk orang per orang. Kalau Allah mau pakai seseorang, Ia akan memakainya dalam kerangka yang sangat besar, berkenaan dengan umat Allah. Jadi, bila terus orang bertanya, apakah kehendak Allah bagi diriku—apakah saya akan begini atau begitu, saya akan dapat ini atau ini—maka dari Kejadian sampai Wahyu, dari Adam sampai akhir zaman, pertanyaan tersebut takkan pernah dapat dijawab!

Tetapi perhatikan ayat 15, Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis, dan Yohanes sebelumnya menolak untuk membaptiskan Yesus. Yesus kemudian berkata bahwa tindakan Yohanes Pembaptis itu adalah “demi menggenapkan seluruh kehendak Allah!” Dalam terjemahan yang lebih bebas, “demi menggenapkan seluruh kebenaran” (pasan dikaiosynen). Apa artinya?

Pertama, sebagian pemikir Kristen klasik mengartikan dikaiosyne adalah “tuntutan keadilan Allah.” Dalam PL disebut sebagai tsedaqah. Artinya, Allah menuntut ke atas orang berdosa tanggungan dosa, yaitu maut. Allah yang suci dan benar, takkan mungkin dapat bersekutu dengan dosa. Allah membenci dosa.

Allah bukan menangis dengan adanya dosa, lalu kebingungan sendiri dengan apa yang harus Ia kerjakan! Ini adalah Allah kaum Pelagian, Allah yang pada akhirnya menyerah kalah dengan “kehendak bebas” yang Ia sudah berikan kepada manusia sejak semula. Atau Allah para “Pelagianisme Versi Baru,” Allah para psikolog dan para motivator andal yang inti bicaranya adalah bahwa setiap manusia menentukan nasib bagi dirinya sendiri: tergantung dia memiliki pikiran yang positif atau negatif dengan dirinya! TIDAK! Allah adalah Hakim, dan ke atas orang-orang berdosa Allah siap menuangkan isi dari cawan kemurkaan-Nya!

Bila Allah berkehendak menyelamatkan manusia, harus ada satu orang yang sempurna—tak bercacat cela, tak berdosa—yang akan menanggungnya. Tetapi siapa? Jawabannya jelas, tidak mungkin dari pihak manusia celaka, tetapi dari pihak Allah. Manusia itu datang dari pihak Allah. Ia haruslah memiliki dua sifat sekaligus: Allah dan manusia. Allah karena hanya Dia yang tidak tercemarkan oleh dosa, tetapi juga Manusia karena ke atas-Nyalah kelak tuntutan keadilan Allah akan dijatuhkan. Yohanes sendiri terpukau ketika Yesus datang kepadanya, “Bukan Engkau yang seharusnya aku baptis, tetapi akulah yang seharusnya Engkau baptis!”

“Hai Yesus, Engkau adalah manusia, tetapi Engkau tidak berdosa. Aku adalah manusia, tetapi aku ini berdosa! Mana mungkin aku berani membaptis Engkau?” Ingatlah kesaksian Yohanes Pembaptis juga, “Membuka tali kasut-Nya pun, aku tidak layak!” Oh! Membuka tali kasut adalah pekerjaan sehari-hari dari seorang budak kepada tuannya. Yohanes mengaku membuka tali kasut Seseorang yang akan datang sesudahnya, tidak layaklah dia. Itu berarti ia mengaku lebih rendah daripada seorang budak. Yohanes sadar, ia bukan apa-apa. He is nothing!

Kedua, para ahli masa kini menyelidiki bahwa dikaiosyne erat kaitannya dengan ikatan perjanjian Allah. Kata “kebenaran” akan membuat orang bertanya, “Apakah Allah masih mengingat perjanjian-Nya dengan umat-Nya?” Bila Ya, mengapa umat berada di dalam penindasan dan kesesakan? Kebenaran berarti berbicara mengenai Allah yang berpihak kepada umat-Nya. Kebenaran itu bertalian erat dengan keberpihakan Allah kepada orang-orang yang tertindas, kaum pilihan yang sekarang tengah mengerang dalam derita dan impitan.

Yesus dibaptis oleh Yohanes berarti, di sinilah nyata bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Pembaptisan Yesus memberikan bukti bahwa Allah mengingat janji-janji-Nya untuk memberikan hari baru yang penuh pengharapan. Itulah masa tatkala Allah merekahkan fajar era baru, era Mesianik. Yesus dibaptis sebagai Mesias, Dia yang diutus oleh Allah Israel. Masa yang mengawali pemerintahan Allah. Umat kini tidak berada lagi di bawah kekuasaan dosa, atau penjajahan bangsa asing dan kuasa-kuasa di udara. Umat, berada di bawah kekuasaan Allah perjanjian!

Posisi mana pun yang kita ambil, satu hal yang tidak mungkin salah yaitu, Yesus adalah Mesias; dan sebagai Mesias Ia memimpin umat-Nya untuk memasuki era Kerjaan Allah. Bagaimana tugas ini terpenuhi? Yaitu ketika Yohanes selesai menuangkan air ke atas kepala Yesus, dan air itu mengalir ke tubuh Yesus, lalu tepat ketika Ia keluar dari air, terjadilah peristiwa yang istimewa. Sedikit catatan mengenai “keluar dari air,” tak harus berarti Ia diselam. Bisa jadi, air Sungai Yordan hanya selutut.

Pertama, perhatikan ayat 13, pada intinya adalah bahwa Yesus datang ke Yordan. Bukankah kita mengingat alusi kepada peristiwa Yosua dan pasukan Israel sampai ke Sungai Yordan dan sebentar lagi akan memasuki Tanah Perjanjian (Yos. 3-4). Kini Yosua Kedua, Yesus datang ke Sungai Yordan, dan Ia sedang memimpin Israel yang baru memasuki Tanah Perjanjian. Untuk masuk ke peristiwa itu, Yesus harus dilantik sebagai Mesias, pemimpin umat Allah, yang akan membebaskan kaum-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1.21).

Kedua, Roh Kudus turun bagaikan burung merpati. Apa yang kita ingat? Merpati yang terbang dari kapal Nuh setelah peristiwa air bah (Kej. 8.8-12)! Ciptaan yang lama sudah berakhir. Allah menjadikan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang lain, tetapi di atas ciptaan yang lama. Allah menjadikan dari yang lama itu, sesuatu yang sama sekali lain. Merpati turun ke atas Yesus berarti, kini datanglah ciptaan baru. Yesus inilah yang memimpin umat manusia yang baru kepada Tanah Perjanjian—bukan lagi Palestina—tetapi Ciptaan Baru, kaine ktesis, kata rasul Paulus (2Kor. 5.17).

Ketiga, suara yang terdengar dari surga, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 17). Dua rangkap kesaksian firman dikenakan kepada Yesus. (a) Mazmur 2.7, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Allah melalui imam besar mengumumkan raja Israel yang dinobatkan sebagai Anak-Nya. Yesus adalah Anak Allah. Yesus adalah Raja Israel. Yesus adalah Mesias Raja. (b) Yesaya 42.1, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.” Dalam kitab yang sama, pasal 40-55, terdapat lima nyanyian tentang Hamba TUHAN, ebed Yahweh, yang berpuncak pada sengsara Sang Hamba Tuhan demi kesetiaan-Nya kepada amanat yang diterima dari Yahweh, Allah Israel.

Implikasinya jelas sekali, Yesus adalah Pemimpin, namun sekaligus Ia adalah Hamba Allah. Berita ini bukan masalah hidup setelah kematian. Tetapi kenyataan yang terjadi kini dan di sini, ketika kita masih hidup di dalam dunia. Kita berada di bawah kepemimpinan Yesus, dan tidak ada kuasa yang menaklukkan kita lagi. Ini berita revolusioner! Bahkan subversif! Sebab ketika kita mengaku Yesus adalah Mesias, berarti ketertundukan kita adalah kepada Yesus semata-mata!

Jadi, apakah kehendak Allah? Allah mau kebenaran-Nya dinyatakan di atas bumi. Kebenaran yang dipimpin oleh Mesias Yesus, yang ditetapkan sebagai Mesias Raja dan Mesias Hamba. Di bawah kepemimpinan-Nya, hadirlah pemerintahan Allah yang sejati. Kerajaan Allah. Ciptaan baru, yang ditandai oleh damai sejahtera, šālôm. Hendaklah kini kehendak kita seturut kehendak-Nya saja.

TERPUJILAH ALLAH! (250207)

Friday, February 23, 2007

Easter: Wright & Wrong

Easter: Wright & Wrong

In the 1980s, the Bishop of Durham David Jenkins not only enraged more traditional Christians with his reported comments on the resurrection, but took a thunderbolt from on high.

The latest incumbent of Durham is Tom (also known as N.T.) Wright, one of the most interesting writers on the New Testament alive today, and he has some feathers to ruffle on the subject of the empty tomb, too. Find out what's going wrong in a church near you this Easter, as Tom Wright enlists Ship of Fools readers' help in a bit of Paschal detective work.

And if lightning strikes the same place twice, we'll let you know.

IF I WERE A BETTING MAN, I would lay good money on two basic messages going out from pulpits this Easter. If those aboard Ship of Fools could act as flies on the wall, they might be able to tell me whether I would have won. (I know that flies ought to be suspicious of a website, but go for it anyway.)

Pastor Gospelman believes passionately in the bodily resurrection of Jesus, the empty tomb, the angels, the whole supernatural shebang. (If that isn't how you spell that last word, sorry, I'm relying on oral tradition.) Every Easter he denounces the wicked liberals, not least The Reverend Jeremy Smoothtongue up the road, for their unwillingness to acknowledge that the Bible is true, that God really does do miracles, and that – as the demonstration of those two points – Jesus really did rise again.

He may try a few stunts to show that eye-witnesses can tell strange stories and still be speaking the truth: watch him eat a daffodil in the pulpit. He may quote the old chorus: "You ask me how I know he lives? He lives within my heart!" Yes, Jesus is risen from the dead, and he is therefore alive and we can get to know him for ourselves.

When it comes to the "so what?" the Pastor is equally emphatic. There really is a life after death! Jesus has gone to prepare a place for us in heaven! Salvation awaits, in a glorious, blissful world beyond this one. We are, after all, "citizens of heaven", as Paul says, so when we're done with this wicked world our souls will be snatched away to be there for ever. We shall be reunited with our loved ones (don't you wish there was a better phrase, even a better cliché, for saying that?). We shall share the life of the New Jerusalem. "Here for a season, then above, O Lamb of God I come." "Till we cast our crowns before thee, lost in wonder, love and praise."

Alas: Pastor Gospelman has missed the point. Much of what he says is true, but most of it isn't the truth that the Easter stories were written to convey.

DOWN THE ROAD, FORTIFIED BY champagne in the Rectory after the midnight Easter Vigil (why not break the Lenten fast in style, even if your fasting itself has been, well, somewhat sporadic), Mr Smoothtongue is in full flow. We know of course that the crude, surface meaning of the story can't be what the writers really meant. Modern science has shown that miracles don't happen, that dead people don't rise. Anyway, what kind of a God would break into history just this once, to rescue one favoured person, while standing back and doing nothing during the Holocaust? To believe in something so obvious, so blatant, so... unspiritual as the empty tomb and the bodily resurrection – it's offensive to all one's finer instincts.

In particular, it might be taken to mean (as his good friend Pastor Gospelman up the road would no doubt imagine, bless his fundamentalist socks) that Christianity is therefore superior to all other faiths, whereas we know that God is radically inclusive and that all religions, all faiths, all worldviews can be equally valid pathways to The Divine.

So... the stories of the empty tomb were probably made up many years after it all. The learned Rector wants to make this quite clear: they are a remythologization of the primal eschatological drama, which caught up the disciples in a moment of sociomorphic, possibly even sociopathic, empathy with the apocalyptic dénouement of the Beatific Vision. Hmm. No, the congregation didn't quite get that either. But then they, too, had ended the Lenten Fast in style.

When it comes to the "so what?" Mr Smoothtongue is emphatic. Now that we've got away from that crude supernatural nonsense, the way is clear to "True Resurrection". This, it turns out, is a new way of construing the human project, breaking through the old taboos (he has traditional sexual ethics in mind, but is too delicate to mention it) and discovering a new kind of life, a welcoming, yes, inclusive approach.

The "stone" of legalism has been rolled away, and the "risen body", the true spark of life and identity hidden inside each of us, can burst forth. And – well, of course, this new life must now infect all our relationships. All our social policies. Resurrection must become, not a one-off event, imagined by pre-modern minds and insisted on by backward-looking conservatives, but an ongoing event in the liberation of humans and the world.

Mr Smoothtongue is on to something here at last, but he doesn't know what it is. Or why.

WHAT PASTOR GOSPELMAN never notices is that the resurrection stories in the four Gospels aren't about going to heaven when you die. In fact, there is almost nothing about "going to heaven when you die" in the whole New Testament. Being "citizens of heaven" (Philippians 3.20) doesn't mean you're supposed to end up there. Many of the Philippians were Roman citizens, but Rome didn't want them back when they retired. Their job was to bring Roman culture to Philippi.

That's the point which all the Gospels actually make, in their own ways. Jesus is risen, therefore God's new world has begun. Jesus is risen, therefore Israel and the world have been redeemed. Jesus is risen, therefore his followers have a new job to do.

And what is that new job? To bring the life of heaven to birth in actual, physical, earthly reality. This is what Pastor Gospelman never imagines (though his preaching does sometimes accidentally have this result). The bodily resurrection of Jesus is more than a proof that God performs miracles or that the Bible is true. It is more than the Christian's knowing of Jesus in our own experience (that is the truth of Pentecost, not of Easter). It is much, much more than the assurance of heaven after death (Paul speaks of "going away and being with Christ", but his main emphasis is on coming back again in a risen body, to live in God's new-born creation).

Jesus' resurrection is the beginning of God's new project, not to snatch people away from earth to heaven, but to colonize earth with the life of heaven. That, after all, is what the Lord's Prayer is about.

That's why Mr Smoothtongue's final point has a grain of truth in it, though all his previous denials make it impossible for him to see why it's true or what its proper shape is. The resurrection is indeed the foundation for a renewed way of life in and for the world. But to get that social, political and cultural result you really do need the bodily resurrection, not just a "spiritual" event that might have happened to Jesus or perhaps simply to the disciples. And his insistence on "modern science" (not that he's read any physics recently) is pure Enlightenment rhetoric. We didn't need Galileo and Einstein to tell us that dead people don't come back to life.

When Paul wrote his great resurrection chapter, 1 Corinthians 15, he didn't end by saying, "So let's celebrate the great future life that awaits us." He ended by saying, "So get on with your work, because you know that in the Lord it won't go to waste." When the final resurrection occurs, as the centrepiece of God's new creation, we will discover that everything done in the present world in the power of Jesus' own resurrection will be celebrated and included, appropriately transformed.

Of course, when the muddled Rector tries to make Easter mean "liberation from moral constraint", and "discovering the true spark within each of us", he is standing genuine Christianity on its head and making it perform tricks like a circus lion. Easter is about new creation, a huge and stunning fresh gift of transforming grace, not about discovering that the old world has been misunderstood and needs simply to be allowed to be truly itself. Romans 6, 1 Corinthians 6 and Colossians 3 stand firmly in his way at this point.

HANDS UP ALL THOSE who have heard one or other of those sermons. Thank you. How much did I win?

Now hands up those who have heard a sermon which reflects what Paul is talking about in Romans 8, or the evangelists in their final chapters, or John the Seer in Revelation 21 and 22: that, with Easter, God's new creation is launched upon a surprised world, pointing ahead to the renewal, the redemption, the rebirth of the entire creation.

Hands up those who have heard the message that every act of love, every deed done in Christ and by the Spirit, every work of true creativity – every time justice is done, peace is made, families are healed, temptation is resisted, true freedom is sought and won – that this very earthly event takes its place within a long history of things which implement Jesus' own resurrection and anticipate the final new creation, and act as signposts of hope, pointing back to the first and on to the second.


I thought so. Thank you.


http://ship-of-fools.com/Features/frameit.htm?0403/wright_wrong.html

Thursday, February 22, 2007

Dasar-dasar Himnologi

DASAR-DASAR HIMNOLOGI (ILMU TENTANG HIMNE)


1. Salah satu karakteristik ibadah Kristen adalah dialogis. Ibadah modern mengartikan dialog sebagai tanggap-tanggapan antara pemimpin ibadah dan jemaat, yang berseru-seru, “Amin, Saudara . . . ???” dan menantikan respons balik “Amin!!!” sekeras-kerasnya. Ibadah telah menjadi sangat horisontal. Padahal dialog sesungguhnya berlangsung antara jemaat dengan Allah, dan jemaat dengan jemaat. Itu berarti, hanya ada satu pemimpin ibadah, bertindak sekaligus sebagai wakil Allah dan wakil umat. Liturgi bukanlah susunan mata acara, tetapi peraturan yang ditetapkan untuk menolong terjadinya dialog dalam ibadah. Sebab itu, liturgi harus disusun berdasarkan logika Alkitab, yakni “sejarah penebusan” (redemptive history) yang dilakukan secara harmonis oleh Allah Trinitas.

2. Di dalam ibadah, jemaat sebenarnya sedang “mendoakan nyanyian-nyanyian dan menyanyikan doa-doa.” Himne adalah sebuah nyanyian yang ditujukan supaya jemaat menyanyikannya di dalam ibadah. Allah mendambakan hubungan dengan umat-Nya. Dalam nyanyian, kadang-kadang Allah berbicara kepada kita, kadang-kadang kitalah yang berbicara, dan kadang-kadang kita berbicara satu sama lain. Banyak macam dan ragam himne, tetapi tiap pemimpin ibadah perlu bertanya,
¨ Bagaimana nyanyian-nyanyian kita menolong jemaat kita menaikkan doa kepada Allah?
¨ Bagaimana kita dapat menyanyikan doa-doa kita dan mendoakan pujian kita?

3. Di mana tempat himne dalam liturgi yang benar—yang disusun berdasarkan logika sejarah penebusan? Namun pertama-tama kita harus saksama mengamati, siapa sedang berbicara kepada siapa. Simak petunjuknya:
↓ Panah ke bawah, Allah berbicara kepada kita.
↑ Panah ke atas, kita berbicara kepada Allah.
↔ Panah horisontal, kadang-kadang kita berbicara kepada sesama jemaat.

Pola liturgi Gereja yang Menyejarah:


4. Liturgi di atas hanyalah satu contoh mempersiapkan kebaktian. Detail-detail pastilah berbeda pada berbagai tempat. Tetapi simak baik-baik bahwa percakapan terjadi di sini. Himne dapat dijumpai di setiap bagian di dalam ibadah. Terkadang seluruh jemaat menyanyi, terkadang paduan suara menyanyi. Terkadang kita menyanyikan himne yang panjang, dengan beberapa bait, tetapi kadang-kadang kita menyanyikan lagu yang pendek dan sederhana. Pertanyaan yang mendasar adalah: Bagaimana caranya agar jemaat terlibat dalam percakapan dalam ibadah ini?

5. Bagaimanakah jemaat seharusnya memahami himne?

5.1. Himne harus dinyanyikan dari dalam hati. Ibadah dimulai dari rumah. Allah tidak membutuhkan lagu, tetapi hati kita.

5.2. Himne dinyanyikan bersama jemaat lokal. Setiap orang Kristen terisap dalam persekutuan orang percaya. Setiap orang dalam jemaat memiliki pergumulan. Ada yang siap menyanyi, ada pula yang bergulat dengan masalah dan kesedihan. Nyanyian kita seharusnya mampu menyatakan sukacita dan kesedihan jemaat, dan diikat dalam satu hati maupun satu suara. Bila seseorang terluka, yang lain mendoakannya.

5.3. Himne dinyanyikan bersama gereja di sepanjang zaman. Umat Allah lebih luas dari jemaat lokal. Ketika menyanyikan Mazmur, kita mengikatkan diri dengan jemaat pada zaman Daud. Misalnya lagu “O God, Our Help in Ages Past” (KJ. 330, “Kau, Allah, Benteng yang Baka) diambil dari Mzm. 90 yang membawa kita sampai ke zaman Musa. Musa menulis lagu itu, para ahli kitab menyalinnya. Orang lain menerjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan akhirnya ke bahasa Inggris. Sekitar 300 tahun lalu, Pdt. Isaac Watts menulis syair berdasarkan mazmur tersebut. Seseorang menulis lagu. Seseorang membawanya ke Amerika, dan orang lain membawanya sampai ke Indonesia. Setiap kali menyanyikan mazmur ini, kita sedang mengikatkan diri kita dengan Musa, sebab ia masih hidup hingga saat ini, di hadirat Allah. Dan kita pun mengikatkan diri dengan umat yang telah dan akan menyanyikannya. Inilah harta warisan Gereja Tuhan! Kiranya Gereja modern tidak lagi berkata, menyanyikan himne sama saja dengan “Tembang Kenangan.”

5.4. Himne dinyanyikan bersama gereja di segala tempat. Umat Allah juga universal. Visi Allah yakni ketika Yerusalem baru hadir di bumi, matahari dan bulan tak lagi diperlukan sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba menjadi lampunya, serta “bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya” (Why. 21.24). Adalah baik bila visi ini terwujud dengan cara membawa pergumulan umat Allah di lain tempat ke dalam doa dan pujian. Betapa baik dalam kidung kita terdapat nyanyian dari berbagai tempat di seluruh dunia.

5.5. Himne dinyanyikan bersama semua ciptaan. Ketika bernyanyi, kita seharusnya sadar bahwa kita juga sedang bernyanyi bersama ciptaan. Perhatikan Mazmur 19; 98. Kita membawa seluruh sukacita dan kesedihan ciptaan. Perhatikan nyanyian tentang ciptaan “Hai Makhluk Alam Semesta” (KJ. 60).

5.6. Himne dinyanyikan bersama seisi surga. Ketika memuji, kita pun sedang bernyanyi bersama orang-orang kudus dan malaikat yang sekarang ini sedang menaikkan puji-pujian di seputar takhta Allah. Yesaya dan Yohanes diizinkan mengintip apa yang sedang terjadi di dalam surga. Nyanyian kita tak pernah sempurna, tetapi kita menyanyi sebab meyakini bahwa Allah akan berbicara kepada kita melalui pujian kita dan bahwa Allah akan menerima doa-doa kita. Bahkan Allah Trinitas bernyanyi bersama kita.

TERPUJILAH ALLAH!

Kalender Liturgi Gereja Protestan

KALENDER LITURGI GEREJA PROTESTAN:
MAKNA DAN RAGAMNYA

Dasar Teologis

Sebagaimana Alah menciptakan dan memilih hari, Allah juga menciptakan suatu irama waktu dan menetapkan waktu-waktu beribadah, yang dikenal sebagai kalender liturgi gerejawi. Dalam Perjanjian Lama, umat Allah menentukan masa-masa khusus untuk berpuasa dan merayakan tindakan-tindakan Allah di dalam sejarah. Tuhan Yesus juga mematuhi hari-hari raya ini.

Kemudian dalam Gereja Perjanjian Baru, hari-hari raya ini diberi makna dan tujuan yang baru sehubungan dengan kehidupan dan pengajaran Tuhan Yesus, kematian dan kebangkitan-Nya, juga karunia Roh Kudus-Nya. Kelahiran, kehidupan, kebangkitan, kenaikan serta janji-Nya untuk kembali sebagai Raja atas ciptaan baru memaknai semua masa peribadahan jemaat dan juga menuntun Gereja Tuhan untuk menentukan bacaan-bacaan teks suci sebagai dasar pemberitaan firman dalam kehidupan Gereja.

Sebab itu, Gereja Protestan memilih masa-masa raya peribadahan berdasarkan karya agung Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus yang menebus segenap umat pilihan Allah. Karya penebusan inilah yang menjadi pola sentral bagi Gereja Tuhan untuk menata ibadahnya pada masa-masa khusus.

Hari-hari Raya Gerejawi

Dalam kepatuhan kepada Allah dan segenap rencana agung keselamatan-Nya, maka Gereja Protestan telah menetapkan hari dan musim ibadah seperti di bawah ini:


Christological Test

CHRISTOLOGICAL TEST
Telaah sederhana 1 Yohanes 5.6-12

5:6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.
5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.
5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.
5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.
5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.


1 Yohanes 5.6-12

Bagian ini merupakan pemaknaan dari konfesi (pengakuan iman) dari sang penulis, yang telah tersirat di dalam 5.1, yang kemudian mengalir terus sampai kepada puncak pengakuannya bahwa siapa yang percaya memiliki hidup yang kekal.

Pengakuan tersebut memiliki kesinambungan tema dengan Yoh. 5.31-40, dan cukup jelas ketika kita menelisik kalimat-kalimat dalam bagian ini. Sang penulis memulai dengan proper name “Yesus Kristus” yang tak lain merupakan kependekan dari “Yesus adalah Kristus” atau “Yesus adalah Mesias.” Perhatikan di 4.2, penulis mengetengahkan bahwa “Yesus sudah datang sebagai manusia.” Tak pelak lagi, sebutan ganda yang diatribusikan kepada Yesus dari Nasaret membuat para pembaca harus berkesimpulan bahwa Yesus ini adalah Allah, sekaligus manusia.

Inilah yang meretas jalan untuk memahami istilah “air” dan “darah.” Ada sebagian orang kala itu yang beranggapan bahwa Kristus hanya datang oleh “air” saja, yaitu bahwa Kristus yang berasal dari surga, yang ilahi, turun ke atas Yesus manakala Ia dibaptis dan terus meninggalkan-Nya sebelum Ia disalibkan. Paham ini diyakini oleh Cerinthus. Penulis 1 Yohanes tidak menutupi pentingnya makna pembaptisan Yesus (air) tetapi, ia kemudian menekankan bahwa Ia pun datang oleh darah, yaitu bahwa sebagai seorang manusia sejati yang memiliki daging dan darah.

Sedangkan sebagian lagi orang percaya, bahwa Yesus memang manusia biasa dan mati disalib. Mereka berhenti pada pemahaman ini saja, dan implikasinya adalah darah Yesus tidak memiliki kuasa untuk menghapuskan dosa-dosa.

Hal yang cukup sulit untuk dimengerti dari ayat 6 adalah perihal Roh yang memberikan kesaksian. Tidak jelas apa maksudnya, meskipun keempat Injil memberikan ruang yang luas untuk Roh yang turun ke atas-Nya sebagai kuasa yang menyertai pelayanan-Nya (Yoh. 1.29-34).

Penafsiran yang memadai untuk masalah ini adalah bahwa air dan darah mengacu kepada keniscayaan pemaknaan akan kematian Yesus. Roh adalah kebenaran (bdk. Yoh. 14.6; 16.13) serta satu dari ketiga hal yang bersaksi tentang Yesus selain air dan darah. Air baptisan yang berpadu dengan Roh menyatakan Yesus sebagai Putra Allah, Mesias, dan oleh darah-Nya Ia membasuh segala dosa.

Tema “saksi” adalah milik khas penulis Yohanes. Tema Roh sebagai saksi juga berparalel dengan Yohanes 15.26-27, meskipun cukup unik beritanya di sana. Teks 1Yoh. 5.7-8, yang sering disebut sebagai Johannine Comma, tidak dijumpai dalam naskah-naskah Yunani awal dan cukup membuat teka-teki mengenai maksud sisipan ini. Nampaknya, kemendesakan untuk menyisipkan berita ini dipicu oleh pemahaman Gereja mengenai perlunya sebanyak mungkin saksi, berdasarkan terang pemikiran Semitik atas Ulangan 17.6; 19.15.

Meskipun kesaksian Yohanes Pembaptis dimasukkan di sini (kesaksian manusia), sang penulis menyatakan bahwa kesaksian Allah lebih besar sehingga peran Roh jauh lebih superior untuk menyatakan bahwa Yesus inilah Anak Allah. Inilah yang menjadi penekanan penting dalam kesaksian yang ditujukan bagi Yesus. Inilah yang ditentang oleh para lawan-lawan kekristenan. Mereka yang mempercayai berita para saksi ini memiliki jaminan dari Allah, sedangkan mereka yang menolak hal ini telah menuding Allah sebagai pembohong atau pendusta (5.10; bdk. 1.10).

Objek pengutusan dan penyataan Sang Putra adalah penyelamatan dunia (4.14). Kesaksian Allah bukan sekadar bagi Sang Putra, tetapi bagi Sang Putra sebagai satu-satunya yang Ia telah berikan hidup yang kekal, atau yang dapat disingkat dengan kata “hidup.” Memiliki Sang Anak berarti percaya di dalam Dia, dan itu berarti memiliki hidup. Tujuan kehadiran Sang Putra, bagi sang penulis, adalah memberikan hidup yang kekal!

TERPUJILAH ALLAH!

Referensi bacaan:

Brown, Raymond E. The Epistles of John. Anchor Bible 30. New York: Doubleday, 1982.

Brown, Raymond E. Gereja yang Apostolik. Yogyakarta: Kanisius, 1998. Hal. 112-137

Burge, Gary M. “Letters of John,” dalam Dictionary of the Later New Testament and Its Development. Ed. Ralph P. Martin dan P. H. Davids. Downes Grove: InterVarsity, 1997. Hal. 590-593.

Hurtado, Larry W. “Christology,” dalam Dictionary of the Later New Testament and Its Development. Hal. 175-176.

Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ. Grand Rapids: Eerdmans, 2003. Hal. 52, 241.

Marshall, I. H. The Epistles of John. NICNT. Grand Rapids: Eerdmans, 1978.

Seifrid, M. A. “Death of Christ,” dalam Dictionary of the Later New Testament and Its Development. Hal. 281-283.

Stott, John. The Cross of Christ. Leicester: InterVarsity, 1986. Hal. 240-243.

Wednesday, February 21, 2007

Mengenal Masa Paska


TAHUKAH ANDA?
MENGENAL MASA PASKA DALAM KALENDER GEREJAWI



Etimologi (Asal Kata). Istilah Pasca, bahasa Portugis, dikembangkan melalui bahasa Latin dan Yunani dari bahasa Ibrani Pesakh, yang berarti “lewat.” Perihal yang lewat yakni malaikat maut, yang dilewati adalah maut sendiri (lambangnya ialah penyeberangan Laut Teberau dan Sungai Yordan). Huruf terakhir dari kata Ibrani Pesakh kemudian dalam bahasa Yunani pindah ke tengah Paskha, sehingga dalam bahasa Indonesia seharusnya ditulis Paska (tanpa huruf H di ujung).

Paska Kristus (lewat kematian) adalah konsekuensi pengertian Paska dari Kitab-kitab Perjanjian Lama (bdk. Luk. 24.44-45). Paska adalah dasar keberadaan Gereja dan seyogianya dirayakan lebih intensif daripada Natal.

§§§§

Prapaska. Masa persiapan sebelum Paska. Ada yang memulainya dengan Septuagesima, yakni pada hari ke-9 sebelum Paska. Labih umum adalah masa 40 hari sebagai masa persiapan, mulai dengan Rabu Abu. Ada juga yang memulai Masa Prapaska dengan hari ke-50 sebelum Paska, sehingga seluruh siklus Paska menjadi 100 hari (sebenarnya 100 – 1 = 99 hari).

Septuagesima. Kata Latin Septuagesima berarti “yang ke-70.” Angka 70 tidak menunjukkan hari ke-70 sebelum Paska, tetapi melambangkan ke-70 bangsa di dunia (Kej. 10) serta 70 tahun masa pembuangan di negeri Babel (2Taw. 36.21; Yer. 25.11, 12).

Sexagesima. Kata Latin sexagesima berarti “yang ke-60.” Ini hanya nama saja, sama seperti “yang ke-70” tadi bukan perhitungan tepat dari hari kesekian sebelum Paska.

Quinquagesima. Kata Latin Quinquagesima berarti “yang ke-50.” Inilah perhitungan tepat 50 hari sebelum Paska, sama seperti Pentakosta (bahasa Yunani) adalah yang ke-50 sesudah Paska.

Esto Mihi. Kata Latin Esto Mihi = “Jadilah bagiku” (Mzm. 31.3b), yakni kata pertama antifon (refren) Mazmur Pembukaan, apabila Hari Minggu ke-7 sebelum Paska (Quinquagesima) memakai tematik tampilan Yesus dalam kemuliaan di atas gunung (sebagaimana berlaku menurut penanggalan Tahun Liturgi sebelum Konsili Trente pada abad ke-16).


****

Warna liturgi bagi ketiga hari Minggu ini adalah HIJAU (meneruskan warna Masa Biasa sesudah Epifania); namun ada juga tradisi yang sudah mulai memakai warna UNGU di sini. Dewasa ini, Septuagesima dan Sexagesima umumnya tidak dipakai lagi (sehingga warna UNGU tidak berlaku lagi di sini. Dalam tradisi Lutheran, Hari Minggu Quinquagesima tetap dipertahankan dengan nama tradisionalnya, Esto Mihi, yakni sebagai titik peralihan, menurut cerita Injil, dari perjalanan Yesus di Galilea kepada perjalanan-Nya ke Yerusalem, yang ditandai oleh kisah tentang Yesus yang tampak dalam kemuliaan di atas gunung bersama-sama dengan Musa dan Elia (suara dari atas, “Inilah Anak yang Kukasihi”). Jika itu berlaku sebagai tematik untuk hari Minggu ke-7 ini sebelum Paska, yakni tepat hari ke-50, maka warnanya adalah warna Paska, yakni PUTIH (sama seperti “Epifania” [6 Januari] dan Kamis Putih sudah bersifat Paska sebelum Paska tiba, mengingat relasinya dengan Baptisan, baik dari Yesus di Sungai Yordan maupun dari Israel di Laut Merah). Dalam Lukas 9.31 dikatakan bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang “tujuan kepergian-Nya,” dalam bahasa Yunani eskhodos atau exodus-Nya, yakni “Keluaran-Nya,” Paska yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.

****


Quadragesima. Kata Latin quadragesima berarti “yang ke-40.” Yaitu hari ke-40 sebelum Paska, yang disebut juga Rabu Abu. Jika dihitung menurut jumlah hari antara Rabu Abu dan Paska, maka ternyata jumlah itu bukan 40, melainkan 46. Maka, untuk mendapatkan angka 40 itu, jumlah 46 hari harus dikurangi dengan 6 hari Minggu, karena setiap hari Minggu tetap mengacu kepada Kebangkitan Kristus—dalam hal ini seperti 6 oasis di padang gurun, di mana ada penyegaran untuk melanjutkan perjalanan 40 hari menuju Paska. Simbolik angka 40 terdapat di mana-mana dalam Alkitab (umat Israel di padang gurun, Musa di atas gunung, Elia di jalan ke Horeb, puasa orang Niniwe, Yesus di padang belantara, dll.).

§§§§


Rabu Abu. Awal masa 40 hari. Abu yang secara simbolik ditaruh di atas kepala atau dijadikan tempat tidur menunjukkan perendahan diri, introspeksi, perkabungan, pertobatan, pendekatan diri kepada Tuhan: manusia tidaklah lebih daripada abu di hadapan Allah (Kej. 18.27; 2Sam. 13.19; Est. 4.1, 3; Ayb. 2.8l; 42.6l Yes. 58.5; Yer. 6.26; Yeh. 27.30; Dan. 9.3; Yun. 3.6). Dalam tradisi Protestan, “Masa 40 Hari” dan “Rabu Abu” pada umumnya kurang diindahkan, mungkin karena sikap segan tehadap bentuk dan pelambang, lagi pula untuk menghindari ekses-ekses yang dulu kala terjadi menjelang Masa 40 Hari itu sebagai kesempatan terakhir untuk berhura-hura. Namun, kombinasi Hari Minggu ke-50 sebelum Paska (7 Minggu) dengan Masa 40 Hari (6 Minggu) sangat menolong jemaat untuk lebih memahami dan menghayati arti (Trihari Paska)!

Invocabit. Kata Latin invocabit berarti “Bila ia berseru” (Mzm. 91.15), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada hari Minggu ke-6 sebelum Paska.

Resmiscere. Kata Latin remiscere berarti “Ingatlah!” (Mzm. 25.6), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada hari Minggu ke-5 sebelum Paska.

Oculi. Kata Latin oculi berarti “Mata(-ku)” (Mzm. 25.15), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada hari Minggu ke-4 sebelum Paska.

Laetare. Kata Latin laetare berarti “Bersukacitalah!” (Yes 66.10), sesuai dengan antifon Mazmur 122 sebagai Mazmur Pembukaan pada hari Minggu ke-3 sebelum Paska.

Judica. Kata Latin judica berarti “Berilah Keadilan!” (Mzm. 43.1), sesuai dengan antifon Mazmur Pembukaan pada hari Minggu ke-2 sebelum Paska. Hari Minggu ini juga sering disebut Hari Minggu Passio I. Passio berarti “sengsara.”

Palmarum. Kata Latin palmarum berarti “Hari Palma” (bdk. Yoh. 12.13). Jika tematiknya tidak berhubungan dengan perjalanan Yesus masuk ke Yerusalem, hari Minggu ini juga dapat disebut Hari Minggu Passio II.


****

Warna liturgi bagi masa Prapaska adalah UNGU. Namun lihat keterangan untuk hari Minggu ke-7 (Quinquagesima). Lalu, sama seperti hari Minggu Adven ke-3, hari Minggu Laetare (ke-3 sebelum Paska) memakai warna MERAH MUDA (atau tetap UNGU). Jika penekanan hari Minggu terakhir sebelum Paska adalah Passio (“sengsara”), maka warnanya UNGU; jika penekanan hari Minggu tersebut pada perjalanan Yesus masuk ke Yerusalem sebagai Raja, warnanya MERAH (atau tetap UNGU). Tidak ada keharusan dalam soal warna, namun warna dapat mengaktifkan penghayatan jemaat.

****


§§§§

Tridium. Tiga hari: Senin, Selasa, Rabu, sebelum Kamis Putih. Adalah masa-masa menghayati aktivitas Yesus selama di Yerusalem, yang menegur dosa-dosa umat Allah secara keras dan mengundangkan pertobatan bagi Israel.

Trihari Paska. Ketiga hari dari Paska: Jumat (termasuk malam sebelumnya), Sabtu dan Minggu. Perjalanan melalui maut memasuki hidup, sejalan dengan perjalanan umat Israel melalui Laut Merah (Teberau) dan Sungai Yordan menuju Hidup di Tanah Perjanjian.

Kamis Putih. Seharusnya bukan hari Kamis, melainkan malam hari Jumat Agung. Warna litugi PUTIH, karena pada malam hari itu Yesus merayakan Pesakh dengan murid-murid-Nya.

Jumat Agung. Peringatan riwayat sengsara Yesus (passio) sepanjang hari. Warna: MERAH (atau tetap UNGU; dahulu HITAM).


****


Warna liturgi MERAH menunjukkan martyria, yakni “kesaksian” seorang martir yang dibunuh. Oleh karena itu, warna merah dipakai untuk peringatan kematian Stefanus pada 26 Desember (ia disebut “saksi,” yaitu “martir” dalam Kis. 22.20), juga untuk peringatan “Para Saksi Kudus” pada tanggal 1 November (sebab banyaknya martir bagaikan awan di sekeliling kita, Ibr. 12.1; bdk. Why. 17.6), dan terutama untuk peringatan Sengsara dan Kematian Yesus pada hari Jumat Agung (“Saksi yang Setia,” Why. 1.5; 3.14).

****



Sabtu Sunyi. Hari Ketujuh, Hari Sabat, Hari Perhentian, Hari Istirahat. Tubuh Yesus di dalam kubur. Warna liturgi MERAH.

Malam Paska. Sama seperti Jumat Agung mulai dengan malam sebelumnya (“Kamis Putih”), begitu juga Hari Minggu Paska mulai dengan malamnya (sesuai dengan perhitungan hari dulu kala; lihat juga Kej. 1.5, 8, 13, dst.). Ada Gereja-gereja yang merayakannya semalam suntuk, antara lain dengan membaca bagian-bagian Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), sehubungan dengan Paska serta pelayanan Baptisan Kudus (menjelang subuh). Warna liturgi, mulai dari saat matahari terbenam PUTIH.

Minggu Paska. Semua hari Minggu sepanjang Tahun Liturgi mengacu kepada Hari Kebangkitan. Hari Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggus, berarti “Tuhan,” yakni Tuhan yang bangkit pada hari Akhad (Akhad, bahasa Arab, sama seperti Ekhad, bahasa Ibrani, yang berarti (Hari) Pertama: Kej. 1.5; Mat. 28.1; Mrk. 16.2; Luk. 24.1; Yoh. 20.1). Maka hari Minggu adalah Hari Tuhan (Why. 1.10). Hari Minggu Paska (termasuk malamnya) hendaknya dirayakan sebagai hari peringatan Gereja yang paling meriah. Warna liturgi PUTIH (sepanjang seluruh Masa Paska 7 x 7 hari, jadi sampai hari Pentakosta (yang warnanya MERAH).

§§§§


Quasimodo Geniti. Kata Latin quasimodo geniti berarti “sama seperti bayi-bayi yang baru lahir” (1Ptr. 2.2), yang jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Minggu Paska, disebut juga Hari Minggu Paska II. Ayat tersebut dipakai sebagai antifon pada Mazmur Pembukaan sehubungan dengan orang-orang yang baru dibaptis pada Malam Paska.

Misericordias Domini. Kata Latin ini artinya “kasih setia Tuhan” (Mzm. 98.2), dalam kombinasi dengan Mazmur 33.5, yakni kata pertama antifon Mazmur Pembukaan. Hari Minggu ini juga sering disebut Pastor Bonus, “Gembala yang Baik,” yang sama seperti Quasimodo geniti dihubungkan dengan mereka yang baru dibaptiskan/diteguhkan sidi. Nama-nama ini diberi kepada hari Minggu kedua sesudah Minggu Paska, atau disebut juga Hari Minggu Paska III.

Jubilate. Kata Latin jubilate berarti “Bersorak-sorailah!” (Mzm. 66.1), dari antifon Mazmur Pembukaan untuk hari Minggu Paska IV. Isi Mazmur 66 mengacu kepada Paska.

Cantate. Kata Latin cantate berarti “Nyanyikanlah!” (Mzm. 98.1), dari antifon Mazmur Pembukaan untuk hari Minggu Paska V. Isi Mazmur 98 mengacu kepada Paska.

Rogate. Kata Latin rogate berarti “Mintalah!” Nama hari Minggu Paska VI ini tidak diambil dari Mazmur Pembukaan, tetapi sehubungan dengan Doa untuk tumbuh-tumbuhan pertanian, yang nanti akan dihubungkan dengan panen rohani pada waktu Pentakosta. Selain itu, Minggu ini juga relevan bagi kita yang tinggal di Indonesia, sebab negeri kita ini adalah negeri agraris.

Exaudi. Kata Latin exaudi berarti “Dengarlah!” (Mzm. 27.7), dari antifon Mazmur Pembukaan untuk hari Minggu Paska VII. Ayat 10 dari Mazmur ini, “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku,” dapat dihubungkan dengan sabda Yesus dalam Yoh. 14.18, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim-piatu,” yaitu Roh yang diberikan sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya.

§§§§


Pentakosta. Kata Yunani pentakosta berarti “hari yang ke-50,” yakni hari ke-50 sesudah Paska. Hari ke-50 itu adalah mahkota atas Paska, sesuai dengan Ulangan 16.9-12. Yakni suatu pesta besar, pesta panen dan pesta kemerdekaan. Bukan kebetulan bila Yerusalem penuh dengan orang pada hari ke-50 sesudah Yesus bangkit, dan baru pada hari itu kebangkitab-Nya dipahami oleh para rasul sehingga mereka mendapat kekuatan dan keberanian untuk bersaksi (Kis. 2.14, 22-24; 32-33, 36). Panen Paska adalah orang-orang yang menjadi percaya oleh kuasa Roh Kudus (Kis. 2.37-42). Warna liturgi: MERAH, warna lambang api, warna keberanian untuk memberi kesaksian (martyria).

Trinitas. Kata Latin trinitas atau Hari Minggu Trinitas baru ditetapkan pada abad ke-14. Warna liturgi PUTIH. Ada yang menganjurkan menghapus nama hari Minggu ini dan langsung sesudah Pentakosta memsuki Masa Biasa dengan warna HIJAU, karena Trinitas ini mengesankan semacam penutupan siklus perayaan gerejawi. Lagipula tidak diperlukan lagi hari Minggu khusus untuk Trinitas: setiap hari Minggu dirayakan atas nama Allah Trinitas: Bapa, Anak dan Roh Kudus.


*Disadur dari Almanak Kristen Indonesia 2007. Jakarta: Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, 2007; hal. 90-95.

Monday, February 19, 2007

A Midnight Prayer 7


Thou knowest, O Jesus,
the extreme difficulty we experience
in subduing and subjecting ourselves to Thee;
suffer not his difficulty to hinder us from accomplishing it.
It is just we should prefer Thy glory,
and Thy holy will,
to our own will and gratification,
and hence we are resolved to do so.
Strengthen us in this resolution,
and make us faithful;
grant that all in us may yield to Thee,
that advancing daily in virtue,
and leading a supernatural and,
through Thy merits, an acceptable life,
we may become worthy of Thy grace here,
and of Thy eternal glory hereafter. Amen.

Collegium Pastorale



ADA APA DENGAN PARA HAMBA TUHAN DI GEREJA KAMI?



Hari ini Collegium Pastorale, tim penggembalaan di gereja kami mengadakan pertemuan. Kami berjumlah 13 orang. 7 orang pengerja gereja induk, 6 orang pengerja cabang. Hari Senin dipilih sebagai hari pertemuan. Kebiasaan ini telah berlangsung lebih dari 20 tahun.

Kami berjumpa untuk membahas teks yang akan dikhotbahkan untuk hari Minggu mendatang. Dan, bagian ini sangat mengasyikkan! Sebab banyak tinjauan yang masing-masing pribadi tampilkan. Ada yang reflektif, ada pula yang memakai pendekatan eksegetikal—bahkan kritik-kritik modern—ada pula yang menarik relevansi untuk masa kini. Dengan demikian, pandangan bahwa hal-hal teologis-eksegetikal itu tidak diperlukan ketika di ladang, tidak lagi berlaku, paling tidak bagi kami. Pertemuan CP, bagi sebagian besar hamba Tuhan di gereja ini, adalah pertemuan yang paling dinanti-nantikan untuk memperkaya khasanah dan persiapan pewartaan sabda.

Kami duduk semeja, melingkar, dan bergiliran memimpin renungan singkat berkenaan dengan teks, biasanya merupakan hasil penggalian atau refleksi. Kemudian, rekan-rekan memberi tanggapan. Oh, pendapat bisa sangat berlainan. Kadang satu dengan yang lain tak sepaham. Bisa pula yang satu meluruskan yang lain, tak peduli jauh lebih junior. Yah tentu, cara untuk mengomunikasikannya sudah sepatutnya santun. Diskusi selalu diwarnai dengan gelak tawa. Keseriusan yang dikemas dengan canda tawa di antara kolega. Namun, yang membuat kami terus gembira adalah para senior kami terbuka dan memberi kesempatan kepada para junior untuk mengemukakan pendapat.

Betapa kami merasakan kekeluargaan di sini. Tidak ada rasa curiga atau ketakutan tergeser oleh rekan kerja. Koordinator CP, yang kami sering sebut sebagai rector, adalah seorang yang kebapakan, bersahaja, rendah hati, dan melindungi rekan kerja. Beliau menyadari diri keterbatasan kapasitas untuk menggali Alkitab, dan tak malu untuk bertanya kepada juniornya.

Selepas menggali dan mendiskusikan Alkitab, kami membahas seputar penggembalaan di induk maupun di cabang-cabang. Ahh, betapa banyak masalah yang diungkapkan. Setiap masalah belum tentu mendapatkan jawaban secara langsung; tetapi bagi kami, di situlah tempat untuk dapat mencurahkan beban dan pergumulan, baik keluarga maupun kehidupan berjemaat.

Satu contoh. Saat ini, seorang rekan yang melayani di cabang yang posisinya di atas pegunungan kapur Utara Jawa Tengah sedang menghadapi masalah yang berat. Jemaat pecah. Beberapa orang membelot dan tidak mau bergabung kembali dengan gereja. Betapa banyak tuntutan yang diajukan oleh kelompok pemecah ini, yang dalam hemat saya intinya hanya satu: mereka yang membelot hanya ingin dianggap sebagai yang dituakan di antara jemaat lain, alias masih mau menjadi pengurus. Sementara banyak jemaat yang sudah meragukan kredibilitas pihak ini. Singkat kata, tuntutan itu dilancarkan kepada sang gembala, sehingga beliau dan istri mengalami tekanan batin yang sangat berat. Belum lama berselang, mereka sama-sama sakit dengan diagnosis penyakit yang tidak diketahui. Beliau segera berpikir, hal itu pasti akibat santet, sebab di desa itu masih kuat okultismenya. Bukan hanya itu, dalam batin rekan kami ini yang terpikirkan adalah: kegagalan dalam pelayanan.

Untunglah beliau mau terbuka dengan kami, sehingga kami pun bersama-sama menyatakan dukungan kepada beliau. CP sepakat untuk mengusulkan kepada Majelis Jemaat agar beliau diberi cuti khusus untuk lepas dari rutinitas penggembalaan, dan berada di bawah bimbingan seorang pakar pastoral di salah satu sekolah teologi di Jawa Timur.

Contoh lain. Cabang kami yang lain lagi tengah menghadapi penutupan persekutuan. Warga desa tidak memperbolehkan lagi rumah yang didiami oleh pendeta yang tinggal di desa itu untuk dipakai sebagai tempat bersekutu. Masalah makin rumit karena berkas surat yang dahulu ditandatangani oleh mantan bupati hilang lenyap bak ditelan bumi. Pak pendeta sangat bergumul, bersama dengan warga binaannya di daerah itu. Hal ini pun disyeringkan dalam pertemuan CP. Sikap kami sebagai CP adalah terus memberikan dukungan moral kepada beliau, agar jemaat dan beliau jangan sampai patah semangat. Terbukti, tiap kali pertemuan, bila beliau hadir ada saja rekan yang menanyakan kemajuan usaha dan pergumulan di persekutuan ini. Saat ini, Tuhan mulai bukakan titik-titik terang adanya jalan keluar. Ya, bila semua pintu tertutup, masih ada jendela yang terbuka. Namun bila pintu dan jendela tertutup pun, udara tetap dapat masuk melalui lubang-lubang kecil. Puji Tuhan!

Itulah sekilas mengenai Collegium Pastorale. Satu kata yang menunjukkan identitas kami adalah: KOLEGIALITAS! Apakah kata ini ditemukan pula di persekutuan atau gereja lain? Harapan kami demikian. Sambil kita menantikan datangnya Kerajaan Allah. Amin.

TERPUJILAH ALLAH!

Liturgi Prapaskah IV


LITURGI PRAPASKAH IV
“MANNA YANG TURUN DARI SURGA” (Yohanes 6.22-71)
18 Maret 2007


Preludium

Warta Jemaat

(Procantor mengajak menyanyi 1 pujian, Pelayan Firman dan penatua memasuki ruang ibadah)

Seorang warga jemaat senior mengajak jemaat berdoa persiapan ibadah:

Tuhan Allah, di masa Prapaskah ini,
kami mengarahkan hati kami untuk mengenang kematian Yesus,
serta merayakan kebangkitan-Nya.
Kami berdoa bahwa Roh-Mu yang hidup pada hari ini akan membarui
hasrat kami untuk menantikan peristiwa agung ini,
dan biarlah kami mawas akan makna kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus
sebagai sumber pengharapan dan hidup.
Dalam kuasa Tuhan Yesus kami berdoa.

Semua: AMIN.

Jemaat Berdiri

I. BERHIMPUN DI SEKITAR SABDA

1. SALAM (1 = E)
PF : 5 5 5 5 4 . 3 . 2 1 2 3 2 . 1 0
Tuhan Sang Pe- ne- bus me-nyer-tai Sau- da- ra

Jemaat: 5 5 5 5 6 . 1 . 1 . 7 . 1 . . 0
Ju-ga me-nyer- ta- i Sau- da- ra.

2. PANGGILAN BERIBADAH
PF : Marilah kita merenungkan siapa Yesus, Tuhan kita:
Yang tidak merengkuh suka cita yang adalah milik-Nya, namun dengan setia telah menerima salib, dan mengabaikan kehinaannya.
Jemaat: Kami menyembah Engkau, ya Tuhan.
PF : Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau terlahir dalam kesederhanaan, untuk merendahkan orang-orang sombong dan meninggikan orang-orang yang lemah,
Jemaat: Kami menyembah Engkau, ya Tuhan.

PF : Engkau tinggal di antara kami, menyembuhkan orang-orang sakit, mewartakan kabar baik bagi orang miskin, dan memberitakan makanan kekal yang turun dari surga.
Jemaat: Kami menyembah Engkau, ya Tuhan.
PF : Ya Yesus Kristus, yang sempurna dalam kesabaran dan belas kasih, Engkau menunjukkan pengampunan serta bela rasa hingga pada akhirnya.
Jemaat: Kami menyembah Engkau, ya Tuhan.
PF : Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Semua: AMIN.

Semua menyambut dengan GLORIA PATRI (Mulia Bagi Bapa)
Mulia bagi Bapa, bagi Anak serta Roh’ul Kudus
Dari permulaannya, s’karang dan akan jadi.
Selama-lamanya. Amin.

3. WARTA KETEGUHAN IMAN
PF : Kita percaya kepada Allah, sebab demikian besar pendamaian Kristus, dan dosa-dosa tidak lagi berkuasa atas kita, atau pun kodrat kita sebagai manusia berdosa, meski terus bergumul dan bergulat di dalam diri kita. Lebih dari itu, dalam anugerah-Nya, Allah menganugerahkan kepada kita kebenaran Kristus, untuk memebaskan kita selama-lamanya dari penghakiman.
Semua: AMIN.

Jemaat menyambut dengan Kidung Perhimpunan:
WALAU SERIBU LIDAHKU (1 = G)

1 . 3 4 5 6 5 4 3 4 3 1 2 7 1 . .
Wa- lau se- ri- bu li- dah- ku

3 4 3 2 1 2 . . 2 3 . 2 3 4 5 6
Tak sam-pai, ya Tuhan Tak sam- pai,

5 . 4 . 5 . . . 5 . 5 5 3 . 2 1 3 4 3 2 1 2 . .
ya Tu- han Me- nyampai- kan puji- an- Hu

1 4 4 4 4 3 . . 3 2 2 2 3 4 . 2 5 . .
dan ke- mu-lia- an- Nya dan kemu- lia- an- Nya

5 6 5 4 3 2 . . 2 1 . . .
dan ke- mu- lia- an- Nya.

Nama-Mulah menghiburkan,
memb’ranikan hati, memb’ranikan hati;
sentosa dan kesukaan Dia saja memb’rinya
Dia saja memb’rinya, Dia saja memb’rinya.

Nama yang sangat mulia,
Yesus Jurus’lamat, Yesus Jurus’lamat
pada segenap kaum-Nya, hendak kumasyhurkan,
hendak kumasyhurkan, hendak kumasyhurkan.

Jemaat duduk

4. DOA PERSIAPAN HATI

PF : Marilah kita mengarahkan hati kita kepada Allah, dalam puja dan doa.

Semua:
Utuslah Roh-Mu di antara kami, ya Allah,
Ketika kami merenungkan pengurbanan Yesus Kristus.
Siapkan pikiran kami untuk mendengarkan Sabda-Mu.
Gerakkan hati kami untuk menerima segala yang kami dengar:
Murnikan kehendak kami untuk taat dalam suka cita dan iman.
Inilah yang kami doakan, melalui Kristus, Juruselamat kami. Amin.


II. SABDA ALLAH

5. LEKSIONARI (BACAAN)

a. Perjanjian Lama
(seorang lektor dari Komisi Pemuda)

Lektor : Dengarlah Sabda Allah yang terambil dari Yosua 5.9-12
(setelah membaca)

Lektor:
1 2 3 4 3 . 2 . 1 . 2 . 1 . . 0
Demi-ki-an- lah Sab- da Al- lah

Jemaat:
5 . 5 5 6 . 1 . 6 . 7 . 5 . . 0
Syu- kur ke- pa- da Al- lah!

b. Perjanjian Baru
(seorang lektor dari Komisi Remaja)

Lektor : Dengarlah kesaksian Sabda Allah yang terambil dari 2 Korintus 5.16-21
(setelah membaca)

Lektor:
1 2 3 4 3 . 2 . 1 . 2 . 1 . . 0
Demi-ki-an- lah Sab- da Al- lah

Jemaat:
5 . 5 5 6 . 1 . 6 . 7 . 5 . . 0
Syu- kur ke- pa- da Al- lah!

c. Injil
(seorang lektor dari Penatua)

Lektor : Inilah Injil Kudus mengenai Tuhan kita Yesus Kristus menurut Lukas 15.1-3;11b-32
Jemaat: 1 1 6 5 6 7 1 . 3 3 3 2 1 7 1 0
Kemuliaan ba-gi-Mu, Tuhan Yesus Kris-tus

(setelah membaca)

Lektor:
1 2 3 4 3 . 2 . 1 . 2 . 1 . . 0
Demikianlah In- jil Tu- han

Jemaat:
1 1 6 5 6 7 1 . 3 3 3 2 1 7 1 0
Puji- an ke-pa-da-Mu, Tu-han Yesus Kris-tus

Jemaat Berdiri

Semua menyambut dengan Kidung Sabda PANDANGLAH PADA YESUS (1 = F) (2 kali)

3 3 2 3 5 4 3 3 . . 2 . 6 1 7 1 ’
Le- lah dan su-sahkah ji- wa- mu ser- ta ge- lap

3 2 5 3 . . 3 . 3 3 2 3 6 5 3 3 . . 2 .
Gu- li- ta- kah? Pan- danglah t’rang Ju- ru- s’la- mat- mu

2 3 4 5 7 1 6 5 . . 5 . 0
Hi- dupmu kan ba- ha- gia- lah

3 . 3 5 . 3 2 1 . 1 4 4 4 6 4 3 2 . . 2 .
Pandang-lah pa-da Ye-sus pandanglah wa-jah mu- lia- Nya

3 . 4 5 . 5 5 3 2 1 . 1 1 .
di da- lam te- rang ke- mu-lia- an- Nya

1 . 2 3 . 2 3 4 3 2 1 . .
ji- wa a- kan men- ja di ham- pa.

Jemaat duduk

6. PEMBERITAAN SABDA
Epiklesis
Pembacaan Kitab Suci Yohanes 6.22-71
Khotbah “Manna yang Turun dari Surga”
Waktu Teduh

III. MENANGGAPI SABDA ALLAH

7. DOA PENGAKUAN DOSA (atau Doa Tanggapan dpo. petugas)

Tuhan, kasihanilah kami, orang-orang yang berdosa ini.
Engkaulah yang mengundang kami ke dalam kelimpahan hidup,
dan memberikan kami ketetapan agar kami mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan kami.
Dan Engkau pun mengudang kami untuk berwelas asih kepada sesama kami, sama seperti diri kami sendiri.
Namun, kami gagal dan terus gagal untuk setia dalam panggilan hidup ini.
Tuhan, ampunilah kami.

Jemaat: Ya Tuhan, kasihanilah kami.

(Hening)

Petugas: Marilah memohon ampunan kepada Tuhan Yesus.

Semua:
Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,
Kasihanilah kami.

Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,
Kasihanilah kami.

Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,
Berilah kami damai-Mu. AMIN.

Jemaat menaikkan lagu permohonan ampun KYRIE ELEISON (2 kali)

0 1 7 1 3 . 3 4 5 4 3 1 3 . . .
Ya, Tu- hanku, ka-sih- an- i- lah da- ku;

0 1 7 1 3 . 3 4 3 1 7 1 7 . . .
Ya, Tu- hanku, ka-sih- an- i- lah da- ku;


8. WARTA ANUGERAH
PF : Berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Di dalam Kristus, kita telah ditebus. Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Semua: Amin

Jemaat berdiri

9. TANDA PERDAMAIAN
PF : Patutlah kita pun memberikan tanda perdamaian kepada Saudara-saudara kita, sebab kita adalah umat Allah yang telah menerima pendamaian dari Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

(Jemaat bersalam-salaman)

Jemaat menyambut dengan lagu MASYHURKAN RAJAMU (1 = D)

1 3 1 5 3 1 . . 7 6 5 4 3 2 . .
Masyhurkan Ra- ja- mu, Al- lah Ma- ha- be- sar;

2 3 1 6 5 4 2 2 1 7 . 6 . 5 . .
u- capkan syukur- mu, bernyanyi ber- ge- mar!

5 6 . 7 . 1 . . 1 2 3 4
Su- a- ra- mu, dan ha- ti- mu

5 6 7 1 2 1 . 7 . 1 . .
ber- pa- du mu-ji Tu- han- mu

Jemaat tetap berdiri

10. IKRAR JANJI IMAN
PF : Angkatlah hatimu, hai jemaat Allah, dan marilah kita mengikrarkan iman kita yang paling suci, sebagaimana yang dikumandangkan oleh Gereja Tuhan:

Semua
Selama hidup-Nya di atas dunia,
tetapi khususnya pada masa akhir kehidupan-Nya,
Kristus, dalam badan dan jiwa-Nya,
menerima murka Allah oleh karena dosa-dosa umat manusia.
Ia melakukan ini supaya,
Oleh sengsara sebagai satu-satunya kurban pendamaian,
Ia dapat memerdekakan kita, baik badan dan jiwa,
dari penghukuman kekal, dan memperoleh anugerah, kebenaran, dan hidup yang kekal dari Allah. Amin. (HC37)


Jemaat menyambut dengan lagu MASYHURKAN RAJAMU (1 = D)

1 3 1 5 3 1 . . 7 6 5 4 3 2 . .
Tu- han-mu Pe- ne- bus, yang me- le- pas-kan-kau,

2 3 1 6 5 4 2 2 1 7 . 6 . 5 . .
mem-brikan darah- Nya pembasuh do- sa- mu.

5 6 . 7 . 1 . . 1 2 3 4
Su- a- ra- mu, dan ha- ti- mu

5 6 7 1 2 1 . 7 . 1 . .
ber- pa- du mu-ji Tu- han- mu

Jemaat duduk

11. DOA BAPA KAMI (semua menaikkan doa, dpo. Pelayan Firman)

Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di bumi seperti di surga.
Berilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang telah bersalah kepada kami
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan
sampai selama-lamanya. Amin

(Waktu Hening)

12. DOA SYAFAAT (dpo. Pelayan Firman)
(menyimpulkan doa syafaat)

Pelayan Firman:
3 6 6 5 4 4 . 3 3 2 2 2 1 1 . 7
Ma- ri-lah Tuhan, ma- ri, ber- jumpa dengan ka- mi

7 6 6 5 5 5 . 0
da- lam ke- he- ning- an.

Jemaat:
5 6 7 1 1 1 . 0
den-gar do- a ka- mi

12. PERSEMBAHAN, dpo. penatua yang bertugas
Pembacaan Nas Firman
Doa Persembahan (Jemaat berdiri)
Pengumpulan Persembahan (Procantor memimpin satu pujian)


IV. MENJADI SAKSI SABDA ALLAH

Jemaat berdiri

13. PENGUTUSAN (1 = E)
Jemaat: 5 5 1 1 1 2 2 3 . 1 3 3 4 2 2 1 7 1 . . . :
Utus daku Tuhan Ye- sus utus daku, u- tus- lah

PF : 5 5 5 5 4 . 3 . 2 1 2 3 2 . 1 0
Tuhan Sang Pe- ne- bus me-nyer-tai Sau- da- ra

Jemaat: 5 5 5 5 6 . 1 . 1 . 7 . 1 . . 0
Ju-ga me-nyer- ta- i Sau- da- ra.

PF : Janganlah hidup dari roti saja, tetapi hiduplah oleh kehendak Allah! Kiranya Allah menjagai Saudara dengan bala surga, dan Roh Allah kiranya menjaga hati dan tangan Saudara dari kejatuhan dan kemurtadan. Amin.

Jemaat:
5 5 5 5 0 5 5 1 1 0 1 1 2 1 2 3 .
Ha-le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! A- min!

6 6 5 3 0 4 4 3 2 0 4 4 3 2 7 1 . 0 5 7 1
Ha-le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! A- min! A- min!

PF : Marilah kita memuji-muji Allah kita!
Jemaat: Syukur kepada Allah!

Menaikkan DOXOLOGIA
Kepada Allah b’ri puji! Semua makhluk di bumi
Pada-Nya kub’ri pujian: Bapa, Anak dan Roh Suci! Amin.

V. WAKTU TEDUH

Sunday, February 18, 2007

Liturgi Prapaskah III 2007


LITURGI PRAPASKAH III
“BERSANTAP DI PERJAMUAN RAJAWI” (Markus 6.30-44)
11 Maret 2007


Preludium

Warta Jemaat

(Procantor mengajak menyanyi 1 pujian, Pelayan Firman dan penatua memasuki ruang ibadah)

Seorang warga jemaat senior mengajak jemaat berdoa persiapan ibadah:

Allah yang kudus, juga Allah yang berbelas kasih,
Tatkala kami menyembah Dikau pada hari ini,
Kami merindukan Roh Kudus-Mu memberikan penghiburan
sekaligus tantangan bagi kami,
agar kami menjadi semakin kudus
dan menjadi orang-orang yang mampu mengasihi.
Di dalam dunia yang tak mengenal pertobatan,
kami berdoa memohon pengertian, kerendahan hati, kesabaran dan disiplin
yang dapat menolong kami mati terhadap dosa, dan hidup bagi Tuhan Yesus.

Semua: AMIN.

Jemaat Berdiri

I. BERHIMPUN DI SEKITAR SABDA

1. SALAM

PF : 5 5 5 5 4 . 3 . 2 1 2 3 2 . 1 0
Tuhan Sang Pe- ne- bus me-nyer-tai Sau- da- ra

Jemaat: 5 5 5 5 6 . 1 . 1 . 7 . 1 . . 0
Ju-ga me-nyer- ta- i Sau- da- ra.

2. PANGGILAN BERIBADAH
PF : Marilah kita menyembah Allah, yang telah melakukan perbuatan-perbuatan besar
Jemaat: Kita bersuka cita di dalam Allah, yang telah membuat jalan di tengah padang gurun dunia ini.
PF : Marilah kita menyembah Allah, yang telah mengalirkan rahmat di tengah-tengah tanah yang kering.
Jemaat: Sesungguhnya, kitalah umat yang Allah telah ciptakan di dalam Kristus; kami menyembah Dia, dan kami bersuka cita!
PF : Marilah menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran,
Jemaat: Kita memuji Allah oleh sebab anugerah yang telah menyelamatkan kita. Haleluya! Kami bersuka cita!

Semua menyambut dengan GLORIA PATRI (Mulia Bagi Bapa)
Mulia bagi Bapa, bagi Anak serta Roh’ul Kudus
Dari permulaannya, s’karang dan akan jadi.
Selama-lamanya. Amin.

3. SABDA BAHAGIA
PF : Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Jemaat menyambut dengan Kidung Perhimpunan: BERHIMPUN SEMUA (1 = D)

5 5 . 6 5 3 . 4 5 4 . 3 2 3 1 ’
Berhim- pun se- mu- a meng-ha- dap Tuhan

5 5 . 6 7 1 . 2 1 7 . 5 6 5 . ’
dan pu- ji- lah Di- a Pe- mu- rah be- nar

5 5 . 6 7 1 . 5 5 . 6 4 5 3 1 ’
Ber-hen- ti- lah se- ga- la pergu- mul- an

4 4 . 5 6 4 5 . 4 3 4 2 . 1 . ’
di- gan- ti ke-da- mai- an yang be- sar.

Hormati nama-Nya serta kenangkan
Mukjizat yang sudah dibuat-Nya,
Hendaklah t’rus syukurmu kaunyatakan
di jalan hidupmu seluruhnya.

Berdoa dan jaga supaya jangan
Penggoda merugikan jiwamu.
Di dunia tegaklah kemenangan
Dan dasarnya imanmu yang teguh.

Jemaat duduk

4. DOA PERSIAPAN HATI

PF : Marilah kita mengarahkan hati kita kepada Allah, dalam puja dan doa.

Semua:
Allah yang Perkasa, kepada-Mu hati kami tertuju
Engkau mengenal isi hati kami,
Dan setiap rahasia terbuka di hadapan-Mu:
Basuhlah segenap isi hati kami
oleh karya ilham Roh’ul Kudus-Mu,
sehingga kami dapat sempurna dalam mengasihi Engkau,
dan dilayakkan untuk mengagungkan nama-Mu.
Melalui Yesus Kristus. Amin.


II. SABDA ALLAH

5. LEKSIONARI (BACAAN)

a. Perjanjian Lama
(seorang lektor dari Komisi Pria)

Lektor : Dengarlah Sabda Allah yang terambil dari Yesaya 55:1-9
(setelah membaca)

Lektor:
1 2 3 4 3 . 2 . 1 . 2 . 1 . . 0
Demi-ki-an- lah Sab- da Al- lah

Jemaat:
5 . 5 5 6 . 1 . 6 . 7 . 5 . . 0
Syu- kur ke- pa- da Al- lah!

b. Perjanjian Baru
(seorang lektor dari Komisi Wanita)

Lektor : Dengarlah kesaksian Sabda Allah yang terambil dari 1 Korintus 10.1-13
(setelah membaca)

Lektor:
1 2 3 4 3 . 2 . 1 . 2 . 1 . . 0
Demi-ki-an- lah Sab- da Al- lah

Jemaat:
5 . 5 5 6 . 1 . 6 . 7 . 5 . . 0
Syu- kur ke- pa- da Al- lah!

c. Injil
(seorang lektor dari Penatua)

Lektor : Inilah Injil Kudus mengenai Tuhan kita Yesus Kristus menurut Lukas 13.1-9
Jemaat: 1 1 6 5 6 7 1 . 3 3 3 2 1 7 1 0
Kemuliaan ba-gi-Mu, Tuhan Yesus Kris-tus

(setelah membaca)

Lektor:
1 2 3 4 3 . 2 . 1 . 2 . 1 . . 0
Demikianlah In- jil Tu- han

Jemaat:
1 1 6 5 6 7 1 . 3 3 3 2 1 7 1 0
Puji- an ke-pa-da-Mu, Tu-han Yesus Kris-tus

Jemaat Berdiri

Semua menyambut dengan Kidung Sabda T’LAH KUTEMUKAN DASAR KUAT (1 = F) (2 kali) (ACAPELLA, tanpa iringan musik, didahului oleh seorang cantor)

5 3 5 6 5 4 3 2 . 1 ’
T’lah ku-te- mu-kan da-sar ku- at

3 2 1 2 3 4 3 2 . 0
Tem-pat ber-pa- ut jang-kar- ku

5 3 5 6 5 4 3 2 . 1 ’
Ke- kal, ya Ba- pa Kau membu- at

3 2 1 2 3 4 3 2 . 0
Pu- tra- Mu Dasar yang te- guh

2 2 2 3 5 5 4 5 . 0
Bi- ar pun duni- a le- nyap

5 3 1 6 4 3 2 1 . 0
Pe- gangan hi-dupku te- tap

Jemaat duduk

6. PEMBERITAAN SABDA
Epiklesis
Pembacaan Kitab Suci Markus 6.30-44
Khotbah “Bersantap di Perjamuan Rajawi”
Waktu Teduh

III. MENANGGAPI SABDA ALLAH

7. DOA PENGAKUAN DOSA (atau Doa Tanggapan dpo. petugas)

Tuhan, kasihanilah kami, orang-orang yang berdosa ini.
Engkaulah yang mengundang kami ke dalam kelimpahan hidup,
dan memberikan kami ketetapan agar kami mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan kami.
Dan Engkau pun mengudang kami untuk berwelas asih kepada sesama kami, sama seperti diri kami sendiri.
Namun, kami gagal dan terus gagal untuk setia dalam panggilan hidup ini.
Tuhan, ampunilah kami.

Jemaat: Ya Tuhan, kasihanilah kami.

(Hening)

Petugas: Marilah memohon ampunan kepada Tuhan Yesus.

Semua:
Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,
Kasihanilah kami.

Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,
Kasihanilah kami.

Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,
Berilah kami damai-Mu. AMIN.

Jemaat menaikkan lagu permohonan ampun KYRIE ELEISON (2 kali)

6 1 . 6 1 6 7 1 2 . 6 1 . 6 1 3 3 2 3 .
Tu- han kasih- a- ni; Kris- tus ka- sih- a- ni;

3 6 . 3 6 3 2 1 2 . 1 . 2 3 1 2 2 . 1 6 .
Tu- han kasih- a- ni Tu- han kasih- a- ni ka-mi.


8. WARTA ANUGERAH
PF : Kiranya Allah yang Perkasa, yang telah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia untuk menebus kaum berdosa, menganugerahkan pengampunan dan damai sejahtera kepada Saudara, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Semua: Amin

Jemaat berdiri

9. TANDA PERDAMAIAN
PF : Patutlah kita pun memberikan tanda perdamaian kepada Saudara-saudara kita, sebab kita adalah umat Allah yang telah menerima pendamaian dari Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

(Jemaat bersalam-salaman)

Jemaat menyambut dengan lagu HAI KRISTEN, NYANYILAH (1 = A)

1 . 7 1 6 1 5 . 3 1 4 2 1 7 1 .
Ha- ti- mu ang-katlah!— Ha-le- lu- ya! A- min!

1 . 7 1 6 1 5 . 3 1 4 2 1 7 1 .
Ma- ri ber- so-raklah!— Ha-le- lu- ya! A- min!

3 . 2 3 4 3 2 . 3 . 2 3 4 3 2 .
Tu- han Sa- ha-batmu ting- gal ber- sa- mamu,

1 . 7 1 6 1 5 . 3 1 4 2 1 7 1 .
Ka- sih-Nya pun te- guh— Ha-le- lu- ya! A- min!

Jemaat tetap berdiri

10. IKRAR JANJI IMAN
PF : Angkatlah hatimu, hai jemaat Allah, dan marilah kita mengikrarkan iman kita yang paling suci, yang diyakini oleh Gereja Tuhan di sepanjang abad dan di segala tempat, sebagaimana yang tercermin dalam Pengakuan Iman Rasuli. Hendaklah masing-masing kita berkata:

Semua
Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa,
Khalik langit dan bumi.

Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita
yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari Anak Dara Maria;
yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
mati dan dikuburkan, turun ke alam maut.
Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati,
naik ke surga, duduk di sebelah kanan, Allah Bapa yang Mahakuasa,
dan dari sana Ia akan datang kembali, untuk menghakimi
orang yang hidup dan yang mati.

Aku percaya kepada Roh Kudus,
gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan orang mati
dan hidup yang kekal. Amin.

Jemaat menyambut dengan lagu HAI KRISTEN, NYANYILAH (1 = A)

1 . 7 1 6 1 5 . 3 1 4 2 1 7 1 .
Hai, Kristen, nyanyilah— Ha-le- lu- ya! A- min!

1 . 7 1 6 1 5 . 3 1 4 2 1 7 1 .
Ra- ja- mu pu- ji- lah!— Ha- le- lu- ya! A- min!

3 . 2 3 4 3 2 . 3 . 2 3 4 3 2 .
Pa- du-kan sua-ra-mu di h’da-pan Tuhanmu

1 . 7 1 6 1 5 . 3 1 4 2 1 7 1 .
Nya-nyikan-lah mer-du— Ha- le- lu- ya! A- min!

Jemaat duduk

11. DOA BAPA KAMI (semua menaikkan doa, dpo. Pelayan Firman)

Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di bumi seperti di surga.
Berilah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang telah bersalah kepada kami
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan
sampai selama-lamanya. Amin

(Waktu Hening)

12. DOA SYAFAAT (dpo. Pelayan Firman)
(menyimpulkan doa syafaat)

Pelayan Firman:
3 6 6 5 4 4 . 3 3 2 2 2 1 1 . 7
Ma- ri-lah Tuhan, ma- ri, ber- jumpa dengan ka- mi

7 6 6 5 5 5 . 0
da- lam ke- he- ning- an.

Jemaat:
5 6 7 1 1 1 . 0
dan den-gar doa ka- mi

12. PERSEMBAHAN, dpo. penatua yang bertugas
Pembacaan Nas Firman
Doa Persembahan (Jemaat berdiri)
Pengumpulan Persembahan (Procantor memimpin satu pujian)


IV. MENJADI SAKSI SABDA ALLAH

Jemaat berdiri

13. PENGUTUSAN
PF : 5 5 5 5 4 . 3 . 2 1 2 3 2 . 1 0
Tuhan Sang Pe- ne- bus me-nyer-tai Sau- da- ra

Jemaat: 5 5 5 5 6 . 1 . 1 . 7 . 1 . . 0
Ju-ga me-nyer- ta- i Sau- da- ra.

PF : Allah yang penuh rahmat telah mendamaikan umat-Nya dengan diri-Nya sendiri melalui Putra-Nya. Kiranya kita meneladani kehidupan-Nya dalam ketaatan dengan sebulat hati, serta bersedia melayani, satu sama lain. Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus!

Jemaat:
5 5 5 5 0 5 5 1 1 0 1 1 2 1 2 3 .
Ha-le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! A- min!

6 6 5 3 0 4 4 3 2 0 4 4 3 2 7 1 . 0 5 . 7 . 1 . 0
Ha-le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! Ha- le- lu- ya! A- min! A- min!

PF : Marilah kita memuji-muji Allah kita!
Jemaat: Syukur kepada Allah!

Menaikkan DOXOLOGIA
Kepada Allah b’ri puji! Semua makhluk di bumi
Pada-Nya kub’ri pujian: Bapa, Anak dan Roh Suci! Amin.

V. WAKTU TEDUH

Saturday, February 17, 2007

Mary the First Disciple

MARY THE FIRST DISCIPLE
by Raymond E. Brown, SS

SHE MAY BE THE MOST FAMOUS WOMAN who ever lived, and yet there is surprisingly little in the New Testament about her. Mary is featured only in a few Gospel scenes and the first chapter of Acts.

Nevertheless, these Marian passages, arranged in a plausible chronological order, illustrate how quickly devotion for Mary developed.

MARY IN MARK

Among the four Gospel accounts of Jesus’ ministry, Mark’s is generally considered the oldest. In it Mary appears only once (3:21,31-35) and is referred to once more (6:1-6). The basic scene involves a transition in Jesus’ life: He is moving out of the Nazareth family circle into an active career of teaching and healing centered at Peter’s house in Capernaum.

He is attracting such attention that he does not even get time to eat (3:20). His worried family, thinking his behavior strange (“he is beside himself”), sets out to bring him back home. Mark fills in the time required by their journey down to Capernaum by telling how Jesus dealt with scribes from Jerusalem who also fail to understand him (“he is possessed by Beelzebul” [3:22-30]).

Having answered this second misunderstanding immediately, Jesus answers the first only when the family arrives at the lakeside house (3:31-35). Since he is inside surrounded by a crowd, the word has to be passed in: “Your mother and your brothers are outside asking for you.” Jesus’ response (“Who are my mother and my brothers?”) raises the issue of who really constitute his family now that the Kingdom of God is being proclaimed. As his natural family stands outside, Jesus looks at those inside and proclaims, “Here are my mother and my brothers. Whoever does the will of God is brother and sister and mother to me.”

This scene, in which Jesus praises a family of disciples that is obedient to God at the expense of a natural family that does not understand him, would not incline readers to develop devotion to Mary. Yet it is regarded by many non-Catholics as the basic Marian text, perhaps in reaction to Catholic elevation of Mary.

The dourness of the Marcan outlook is not alleviated by 6:1-6. The locals at Nazareth are astounded at Jesus’ religious prominence: “Where did this fellow get all this wisdom? Isn’t he a carpenter? Isn’t he the son of Mary, and the brother of James and Joses and Judas and Simon? Aren’t his sisters here with us?” In response to the townspeople who have taken offense at the local carpenter-turned-preacher, Jesus compares himself to a prophet who is not honored in his own region, among his own relatives and in his own house. Another discomforting passage for a positive appreciation of Mary!

MARY IN MATTHEW

A significant change in outlook comes about because Matthew has a story of Jesus’ conception and birth that was lacking in Mark. Joseph is married to Mary but has not yet taken her to live with him. A shocking report reaches him that Mary is pregnant, but before he can take action to dissolve the marriage by divorcing her, an angel appears in a dream (Matthew 1:18-25). The angel reveals to Joseph that Mary’s conception is from the Holy Spirit (not from a male); her child to be named Jesus will save his people from their sins and embody God’s presence with us (Emmanuel).

Although Matthew is silent about Mary’s reaction to this intervention by God, the conception creates a context for Matthew’s treatment of Mary in the ministry. Surely this uniquely privileged mother would have understood when Jesus began his ministry of proclaiming God’s kingdom. Accordingly when Matthew draws on Mark 3, he completely omits 3:20-21, in which the family thinks Jesus is beside himself and sets out to bring him home.

When Jesus returns to Nazareth (Matthew 13:54-58), he acknowledges that he is not honored in his own region and in his own house, but makes no mention of being dishonored by his own family. Nevertheless, Matthew 12:46-50 reports virtually unaltered the family-choice scene recounted in Mark 3:31-35: Jesus still gives preference to disciples related to him by doing God’s will.

MARY IN LUKE

Contrasted to the portrayal of Mary in Mark and Matthew, which ranges from dark to neutral, this two-volume work paints her in much warmer colors. While the mother of Jesus had only a restricted role in the Matthean infancy narrative, the virgin of Nazareth (Luke 1:26-27) is the principal figure in the Lucan infancy narrative.

Here too (although the situation is indicated only indirectly) she and Joseph have been married but have not yet lived together. In an appearance to Mary (1:30-33) the angel Gabriel, quoting freely from 2 Samuel 7:12-16, announces that she is going to be the mother of the Davidic Messiah. When Mary asks how this is to be since she is a virgin, the angel quotes what Luke’s readers would recognize as the language of Christian preaching: “The holy Spirit will come upon you; the power of the Most High will overshadow you; and so the child will be called holy, the Son of God” (1:34-35).

Paul uses similar imagery (Holy Spirit, power, divine sonship) in Romans 1:3-4 to phrase the gospel of Jesus as Son of David and Son of God. In the same way here, Luke is presenting Mary as the first one to hear the gospel. She responds, “Let it be done unto me according to your word.” Thus she fulfills perfectly the requirement we saw in Mark for the family of disciples: “Whoever does the will of God is...mother to me.”

Next the Lucan Mary acts out her discipleship in two ways. First, she hastens to go to her relative Elizabeth to share the good news. By way of full response to the gospel, Christian disciples do not simply receive and hold on to what God has revealed; they communicate it to others. Mary’s arrival causes Elizabeth, under the influence of John the Baptist in her womb, to prophesy in praise of Mary.

Like the heroic women deliverers of Israel, Jael and Judith (Judges 5:24; Judith 13:18), Mary is titled “blessed among women.” Moses had said that, if Israel heeded the voice of God, the wombs of the Israelite women would be blessed with fruitfulness (Deuteronomy 28:1,4). Elizabeth, recognizing that Mary’s womb is uniquely fruitful, blesses her as the mother of the Lord (Luke 1:41-44).

But Mary’s heeding the word of God in the Annunciation had another dimension beyond that envisioned by Moses—a gospel dimension that Elizabeth recognizes when in 1:45 she blesses Mary a second time for having believed (and thus having met the criterion of discipleship). If all future generations will call Mary blessed (1:48), they will do so in fidelity to Elizabeth’s prophetic recognition of her roles as mother of the Lord and true Christian disciple.
Second, Mary develops discipleship to the fullest by blessing God in the Magnificat (1:46-55). In that hymn Mary interprets the good news she has brought to Elizabeth. The angel told Mary who Jesus is, namely, Messiah and Son of God; but Mary translates this identity in terms of what his coming means.

On the one hand, God’s gift of Jesus shows strength to Israel, exalts the lowly and fills the hungry; on the other hand, it scatters the proud, puts down the mighty and sends the rich away empty. Mary is anticipating the gospel of her son who, though proclaimed by God as Divine Son (3:22), proclaimed himself in terms of blessings for the poor, the hungry and the sorrowful, and woes for the rich, the satisfied and the revelers. More than any other biblical passage, the Magnificat has made Mary an emblem of hope and a sign of God’s care for the oppressed and downtrodden throughout the world.

In the scenes immediately following the birth of Jesus, Matthew (2:11,14, 21) mentions Mary only as a passive object of care. For Luke, next to God she is the major actor. While others are amazed at the glorious news of the birth of the Messiah and Lord, Mary treasures away all these things carefully, interpreting them in her heart (Luke 2:19). This echoes the language of Genesis 37:11, Daniel 4:28 (Greek) and 7:28 in which a visionary reflects on a mysterious revelation, only part of which he has fully understood.

Despite what has been revealed to her, the way that Jesus’ career will work out will be a trial and involve decision even for Mary, as Simeon prophesies figuratively in Luke 2:34-35 in terms of a sword passing though her soul. The last scene of the Lucan infancy narrative, when Jesus reaches age 12, illustrates her difficulty. She and Joseph cannot understand the way he has behaved in the Temple and his response that he must be about his Father’s business (2:49-50). The challenge to accept God’s unfathomable will in faith is ongoing in the life of the disciple.

That Mary met the ongoing challenge is shown in the Lucan form of the basic ministry scene we saw first in Mark. No longer are the mothers and brothers who come looking for Jesus contrasted with the family created by discipleship. Rather, they are the best examples of those who hear the word of God and do it (Luke 8:19-21), the group that are like the parabolic seed in the good soil mentioned a few verses before (8:15), namely, those “who, hearing the word, hold it fast.” Indeed, the mothers and the brothers endure into the beginnings of the Church, for they are counted in Acts 1:13-14, alongside the Twelve and the women, among the believers awaiting the Pentecostal coming of the Spirit.

MARY IN JOHN

Although this Gospel has no infancy narrative, it has two ministry scenes involving Mary. In content they differ from the accounts in the first three Gospels, but the basic theological issues are the same.

At Cana, a scene in which Jesus moves from family life to public ministry, his mother and brothers are attending a wedding (John 2:1-12). The mother’s implicit request— “They have no wine”—exerts a family claim on Jesus, similar to the mother and brothers coming to look for Jesus in the basic Marcan scene. The rejection of that claim in terms of “My hour has not yet come” is similar to the Lucan Jesus’ response to his mother’s complaint about his behavior at age 12, “Did you not know that I must be about my Father’s business?”

In relation to earthly family both answers give priority to the role assigned to Jesus by the heavenly Father who sent him. Yet the mother of Jesus in John persists with, “Do whatever he tells you,” similar to Mary’s response to the angel in Luke 1:38, “Let it be done to me according to your word.”

The second Johannine scene, which takes place at the foot of the cross (John 19:25-27), confirms that Mary’s final reaction at Cana reflected the obedience characteristic of disciples. The hour has come (13:1); Jesus is finishing the work the Father has given him to do (19:28-30); gathered around him is a group of followers who have remained loyal to the last. Chief among them are two figures whom John has mentioned but whose personal names he never supplies, namely, the mother of Jesus and the disciple whom he loves.

By making the former the mother of that disciple, and the latter his own mother’s son, Jesus is establishing a family of disciples. This is John’s form of dealing with the “Who are my mother and my brothers?” issue. If in Mark and Matthew there was a contrast between two families, one by nature and the other by discipleship, in John (as in Luke) the natural mother is brought into the family of discipleship in a preeminent way, for she now is the mother of the most perfect disciple who becomes Jesus’ brother.

Later theology will recognize that God accorded Mary many privileges, but all of them are derivative from those already found in the sparse New Testament references. She was the mother of God’s Son, the Messiah; she met the requirements of discipleship in an outstanding way. Pope Paul VI wrote succinctly: “Mary is held up as an example to the faithful for the way in which in her own particular life she fully and responsibly accepted the word of God and did it....She is worthy of imitation because she was the first and most perfect of Christ’s disciples.”

http://www.americancatholic.org/Messenger/May1997/Feature2.asp#F1

A Prayer of Fr. Brown

Almighty God, help us to be disciples of your Son.
If we are struggling with faith
and doubting whether we should believe,
overcome our obstacles.
If we believe, strengthen our faith
when it is tested by the difficulties of life.
And as we face the specter of death,
grant us the grace to see that already we possess your life
that death cannot touch.

(Raymond E. Brown, SS)

Scholar for the church: Raymond E. Brown


(NS) In 1998 I entered seminary, in hope that someday I might study under a scholar-pastor named Fr. Raymond E. Brown, SS. He was a catholic priest, in the Societas Sulpice order. Yet he was installed as professor in a Presbyterian seminary, as Auburn Distinguished Professor Emeritus of Biblical Studies at the Union Theological Seminary in New York City. He was a man with more than 30 honorary degrees from European and American universities--a man with a brilliant head, yet granted with a warm heart.

I was upsetted to know that Fr. Brown had just passed away. But he has been putting a zeal in my heart: to love the Bible and to scrutinize it carefully and scholarly, and most of all, to love the Church and to struggle with the people of God. Below is a reflection from a biblical scholar to commemorate Fr. Brown.


Scholar for the church: Raymond E. Brown, 1928-98 - tribute to late priest and biblical scholar

Christian Century, Oct 7, 1998 by Phyllis Trible


THE DEATH OF Raymond E. Brown, S.S., on August 8 in Redwood City, California, came as a thief in the night--unexpected, unwanted and unwelcomed. It robbed him of a life full of writing, research, teaching, travel and play. It robbed the Christian community of a giant and a genius who did justice, loved mercy and walked humbly with his God.

As news of his sudden death spread, two words reverberated in the telling: shock and loss. Nothing had prepared us for this event, even though in hindsight we may think we detect traces of the last enemy creeping toward him. There was the pain in his back that months of physical therapy had not alleviated. And there was the announcement he made only a month before, on a visit to his alma mater, St. Mary's Seminary in Baltimore, of two gifts. One was monetary; the other, the promise that upon his death this Sulpician Seminary, where he had also taught, would receive all his Johannine research materials. Did he know, without knowing, that the number of his days on earth were drawing to a close, that he would be restricted to the biblical three score years and ten (Ps. 90:10)?

To the contrary, he teemed with life. He anticipated all sorts of events: opera under the stars in Santa Fe later in the summer; celebration of a 50th wedding anniversary for a beloved family in California this fall; and a trip to Sicily next spring with friends. Ecclesiastical and scholarly commitments stretched over five years. They included serving on the Pontifical Biblical Commission in Rome, delivering the keynote address at the Religious Education Congress in Los Angeles this coming February, and inaugurating the new divinity school at Wake Forest University next fall. Another research project was under way. Though he and his editor at Double day maintained confidence, word now seeps out that he planned to update his monumental commentaries on the Gospel of John. Raymond Brown affirmed life, not death. As the shock of his death lingers, the loss of his life intensifies.

I first met Ray in 1969. Only 41 at the time, he had already published, three years earlier (1966), volume one of his Anchor Bible Commentary on the Gospel of John, and he had completed volume two, to be published in 1970. In the context of biblical scholarship, where the writing of a single commentary often culminates the work of a lifetime, one was tempted to think of the 12-year-old Jesus whose teachers were amazed at his understanding and his answers (Luke 2:47). The occasion was the opening of the Ecumenical Institute at Wake Forest University. It fostered dialogue between Roman Catholics and Protestants, particularly Southern Baptists (the classical, not the current, variety). Ray was a principal speaker, an instance of his lifelong commitment to ecumenical relations. During that event word came that The Jerome Biblical Commentary (1968), edited by Brown alongside Joseph Fitzmyer, S.J., and Roland Murphy, O. Carm., had received the National Catholic Book Award for 1969. If participants at the conference stood in awe of the young scholar in their midst, he deflected the attention. Raymond Brown did not bear witness to himself.

Our introduction was brief. It occurred during a social hour sponsored by a North Carolina bishop. (Southern Baptists were still uneasy about libations.) Ray and I exchanged words about biblical studies. When a nun in modified habit timidly approached us, he welcomed her and with ease moved the conversation to include her. He asked about her life and teaching in Winston-Salem. Most of the conversation I do not remember, but one comment lodged in my mind. As the sister left us, he gently remarked, "No one has to convince me of the harmful way the church treats women."

Not until a decade later did we meet again. Interviewing for a professorship at Union Theological Seminary, where Ray now taught, I ordered a calves liver at an elegant restaurant on Morningside Heights. Seated next to me, he announced that I had just lost his vote. From boyhood on, he said, he could not tolerate liver. So we became colleagues and soon thereafter friends. (What liver could not do for us, sushi accomplished deliciously.)

In the ensuing years I had ample opportunities to see him respond to the comment he had made in Winston-Salem. Thanks to him, we filled a position in the teaching of Greek with a woman. He delighted when the biblical field became (for a brief, shining moment) the first at the seminary to have a faculty equally paired with women and men. Under his tutelage a large number of women, Roman Catholic, Protestant and Jewish, completed doctorates in New Testament. They now teach in colleges, seminaries and churches throughout the United States and abroad. Ray continued to support them, writing letters for promotions and tenure and encouraging them to publish. No one had to convince him that the academy and the church needed to open their doors to women and that in the process these institutions would change.


The fruit of silence is prayer,
The fruit of prayer is faith,
The fruit of faith is love,
The fruit of love is service,
The fruit of service is peace.

—Mother Teresa of Calcutta