Sunday, April 27, 2008

GELAR THEOTOKOS BAGI MARIA (2)


THEOTOKOS ATAU “BUNDA ALLAH”?

Theotokos adalah gelar Maria, ibunda Yesus yang dipakai secara khusus dalam tradisi Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental dan Gereja-gereja Katolik Timur. Terjemahan harfiahnya adalah yang melahirkan Allah dan seseorang yang memperanakkan Allah, terjemahan yang lebih bebas adalah “Bunda Allah.” Konsili Efesus tahun 431 menetapkan bahwa Maria adalah Theotokos oleh sebab putranya Yesus adalah satu pribadi yang adalah Allah dan manusia, ilahi serta manusiawi.

Secara etimologis, Theotokos merupakan satu kata majemuk dari 2 kata Yunani, Theos, “Allah” dan tokos, persalinan, kelahiran. Secara harfiah yang melahirkan Allah dan seseorang yang memperanakkan Allah. Namun oleh karena banyak Gereja Ortodoks menjumpai penerjemahan ini tidak enak kedengarannya, maka dalam liturgi kata Theotokos sering dibiarkan tanpa terjemahan, atau diparafrasekan sebagai Bunda Allah (Inggris Mother of God). Namun, istilah terakhir ini pun adalah terjemahan dari kata Yunani lainnya yaitu Mētēr Theou; atau kata lainnya yaitu Theomētōr atau Theomētēr, serta Mētrotheos, yang dapat ditemukan dalam teks-teks patristika dan liturgika.

Dalam banyak tradisi, Theotokos diterjemahkan dari bahasa Yunani untuk keperluan bahasa liturgi. Istilah yang paling terkenal adalah dalam bahasa Latin Deipara atau Dei genetrix. Gereja Slavonik Borogoditsa, Koptik Ti. Theotokos, Arab Wālidat Allah, Georgia Ghvtismshobeli, Armenian Astvatzamayr atau Astvadzatzin, dan Romania Născătoare de Dumnezeu atau Maica Domnului.

Penggunaan kata “Bunda Allah” telah dianggap, dan masih dianggap, sebagai translasi yang tidak tepat dari Theotokos. Dan hal ini membutuhkan ruang untuk membahasnya. Kata ini sebenarnya tepat untuk menerjemahkan Mētēr Theou, yang juga menghiasi lembar-lembar literatur, himnografi dan ikonografi. Dalam bentuk yang pendek biasanya disingkat MP ΘY yang dapat dijumpai dalam ikon-ikon Ortodoks. Sebuah himne dinyanyikan sebagai bagian dari Liturgi Surgawi yang termasuk di dalamnya judul atau gelar yang nampaknya mengacu kepada Maria, yang menunjukkan bahwa dua gelar di atas tidaklah identik. Sebuah teks menyatakan demikian, “It is truly fitting to call you blessed, the Theotokos, ever-blessed and holy pure ant the Mother of God.

Perbedaaan antara kedua istilah ini ialah bahwa pada istilah pertama, Theotokos merujuk secara langsung kepada keterhubungan secara badani, sedangkan istilah kedua, “Bunda Allah,” menerangkan suatu hubungan keluarga tetapi tidak melulu harus berkaitan dengan persalinan secara fisik. Dalam tradisi Kristen, “Bunda Allah” tidak pernah dipahami atau ditujukan untuk dipahami bahwa Maria merupakan Bunda Allah sejak kekekalan, yaitu sebagai Bunda dari Allah Bapa, tetapi hanya mengacu kepada kelahiran Yesus, yaitu Inkarnasi; tetapi pembatasan istilah “Bunda Allah” harus dimengerti oleh seseorang yang memakainya. Sebaliknya, Theotokos menyebabkannya spesifik dengan sendirinya, dan dengan demikian menghindarkan kesalahpahaman kebundaan Maria secara ilahi.

Istilah Bunda Allah mendapatkan dasar pembenaran di dalam Lukas 1.43, yaitu pada waktu Elisabet menyongsong dan menyambut Perawan Maria sebagai “ibu Tuhanku.”

TEOLOGI THEOTOKOS

Orang Kristen percaya bahwa Allah adalah causa prima, atau penyebab yang terutama, pencipta segala sesuatu, yang tidak punya awal dan mula, dan karenanyalah “tak beribu”. Oleh sebab itu, Maria bukanlah Bunda Allah sejak kekal. Hal ini bertolak belakang dengan keyakinan agama-agama Yunani-Romawi pada khususnya, yang menyebutkan sejumlah figur ilahi perempuan muncul sebagai “ibu-ibu” dari semua dewa-dewi, demi-gods (makhluk separuh dewa) ataupun para pahlawan. Sebagai contoh, Juno dimuliakan sebagai ibu Vulcan; Aphrodit sebagai ibu Aeneas.

Di pihak lain, orang-orang Kristen percaya bahwa Putra Allah diperanakkan oleh Allah Bapa “sebelum permulaan segala zaman”, tetapi dilahirkan “dalam waktu” melalui Maria. Jadi Theotokos bekait erat dengan Inkarnasi, yaitu bahwa Pribadi Kedua Trinitas Kudus mengambil rupa manusia setelah berada dalam keadaan yang ilahi, dan hal ini menjadi mungkin melalui kesediaan dan kerja sama dari Maria.

Oleh sebab sebagian besar orang Kristen memahami Yesus Kristus adalah Allah yang sepenuhnya dan manusia sepenuhnya, maka memanggil Maria Theotokos meneguhkan kepenuhan inkarnasi Allah. Konsili Efesus menetapkan, sebagai perlawanan terhadap mereka yang menolak Maria dengan gelar Theotokos (“seseorang yang melahirkan Allah”), tetapi menyebutnya Christotokos (“seseorang yang melahirkan Kristus”), yaitu bahwa Maria adalah Theotokos oleh sebab putranya Yesus adalah satu pribadi yang adalah Allah dan manusia, ilahi dan insani. Sirilius dari Aleksandria menulis, “Aku terkejut dengan adanya segolongan orang yang sangat meragukan mengenai sang Perawan kudus seharusnya disapa Theotokos atau tidak. Sebab jika Tuhan Yesus Kristus adalah Allah, bagaimana mungkin sang Perawan kudus yang melahirkan-Nya, bukan [Theotokos]? (Surat Edaran 1, kepada para rahib Mesir). Dengan demikian, pentingnya Theotokos diletakkan pada apa yang kata ini ungkapkan mengenai Yesus, daripada gelar-gelar apa pun mengenai Maria.

Dalam ajaran Ortodoks mengenai tata rencana keselamatan, identitas, peran dan status Maria sebagai Theotokos diakui sebagai hal yang tidak dapat ditinggalkan, dan karena itulah ajaran tentang ini diangkat sebagai dogma resmi. Sedangkan sifat-sifat Maria lainnya (ketidakberdosaannya, peristiwa-peristiwa sekitar kelahiran Kristus, penampakannya di Bait Suci dan kematiannya) lebih terungkap di dalam liturgi, namun demikian tidak pernah tertuang secara formal, dan percaya atau tidak akan hal ini bukan merupakan prasyarat bagi sakramen Baptis. Gereja Roma Katoli sebaliknya, telah menggariskan dengan tegas dogma mengenai ajaran tentang Maria: ketidakberdosaannya (Immaculate Conception) oleh Paus Pius IX tahun 1854 dan pengangkatannya ke dalam surga setelah kematian oleh Paus Pius XII tahun 1950.

Banyak Bapa Gereja Perdana memakai gelar Theotokos bagi Maria sejak paling tidak abad ke-3 Masehi:

Ø Origenes (m. 254) sering dikutip sebagai penulis paling dini yang menggunakan kata Theotokos bagi Maria (Socrates, Ecclesiastical History 7.32 mengutip tafsir Origenes terhadap Surat Roma), tetapi teks yang menjadi dasar pernyataan ini mungkin saja tidak asli.

Ø Dionysios dari Aleksandria memakai Theotokos sekitar 250 kali, dalam sepucuk surat kepada Paulus dari Samosata.

Ø Athanasius dari Aleksandria 330 kali, Gregorius sang Teolog 370, Yohanes Krisostomos 400, dan Agustinus selalu memakai Theotokos.

Ø Theodoret memakai 436 sebutan Theotokos bagi Maria dalam sebuah tradisi ajaran rasuli.

No comments:

The fruit of silence is prayer,
The fruit of prayer is faith,
The fruit of faith is love,
The fruit of love is service,
The fruit of service is peace.

—Mother Teresa of Calcutta